🔴 Breaking
Kesehatan

Rupiah Melemah, Ini Cara Mengatasi Stres yang Muncul

Kondisi ekonomi yang tidak stabil dan melemahnya nilai tukar rupiah membuat masyarakat merasa cemas. Psikiater memberikan saran untuk menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ini.

Sekar Wangi

Penulis

17 May 2026
9 kali dibaca
Rupiah Melemah, Ini Cara Mengatasi Stres yang Muncul
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Jakarta - Penurunan nilai tukar rupiah dan situasi ekonomi yang tidak menentu belakangan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Berbagai isu seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta ketidakpastian masa depan membuat banyak orang merasa cemas.

Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat berdampak pada kesehatan psikologis individu. "Situasi ekonomi terasa tidak menentu memang dapat memicu masyarakat mengalami cemas, khawatir, bahkan frustrasi. Berita yang didengar tentang nilai tukar rupiah yang tidak menentu, harga kebutuhan pokok yang naik, berita PHK, dan ketidakpastian masa depan dapat memicu rasa tidak aman secara psikologis," ungkapnya saat dihubungi.

Respon Tubuh Terhadap Berita Negatif

Menurut dr. Lahargo, otak manusia secara alami memiliki sensitivitas terhadap ancaman. Paparan berita negatif yang terus-menerus dapat membuat tubuh berada dalam keadaan waspada atau 'alarm'. "Saat terus-menerus terpapar berita negatif, tubuh masuk dalam mode alarm, jantung berdetak lebih kencang, napas menjadi lebih cepat, otot menjadi tegang, pikiran overthinking, tidur terganggu, dan emosi jadi lebih mudah meledak," jelasnya.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, individu berisiko mengalami stres kronis dan gangguan kecemasan. "Jika keadaan berlangsung lama maka dapat menimbulkan stres kronis, gangguan cemas, hopelessness dan akhirnya menyebabkan gangguan fungsional dan produktivitas," tambahnya.

Langkah-Langkah Menjaga Kesehatan Mental

Meski demikian, dr. Lahargo menekankan bahwa masyarakat masih bisa mengontrol respons mereka terhadap situasi yang ada. Ia memberikan beberapa langkah untuk menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi. Salah satunya adalah membatasi paparan berita negatif.

Dr. Lahargo mengingatkan agar tidak terlalu sering memantau perkembangan kurs rupiah atau terjebak dalam 'doom scrolling' di media sosial. "Terlalu sering doom scrolling atau memantau kurs setiap jam justru memperbesar kecemasan," ujarnya.

Ia menyarankan agar masyarakat memilih sumber informasi yang kredibel dan membatasi waktu untuk mengonsumsi berita setiap harinya. "Lebih baik fokus pada hal konkret: mengatur pengeluaran, menabung lebih bijak, meningkatkan keterampilan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memperkuat relasi keluarga," jelasnya.

Selain itu, dr. Lahargo juga menekankan pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi tekanan psikologis akibat situasi ekonomi. "Bicarakan kecemasan dengan pasangan, keluarga, atau teman yang suportif. Dukungan sosial adalah salah satu faktor protektif terbesar terhadap stres," tutupnya.

Artikel Terkait