🔴 Breaking
Teknologi

Microsoft Rencanakan Pembangunan Data Center AI di Kenya, Potensi Pemadaman Listrik Besar-besaran

Proyek pembangunan data center oleh Microsoft dan G42 di Kenya mengalami hambatan karena masalah jaminan kapasitas listrik dari pemerintah setempat. Presiden Kenya memperingatkan bahwa untuk menjaga o...

Eko Prasetyo

Penulis

17 May 2026
6 kali dibaca
Microsoft Rencanakan Pembangunan Data Center AI di Kenya, Potensi Pemadaman Listrik Besar-besaran
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Proyek data center yang digagas oleh Microsoft bekerja sama dengan perusahaan kecerdasan buatan G42 dari Abu Dhabi di Kenya dilaporkan mengalami kendala. Menurut informasi dari media Bloomberg, penundaan ini terjadi karena pemerintah Kenya belum dapat memenuhi permintaan Microsoft terkait jaminan kapasitas listrik tahunan yang diperlukan untuk menjalankan fasilitas tersebut.

Presiden Kenya, William Ruto, menyatakan bahwa data center yang direncanakan memerlukan pasokan listrik yang sangat besar. Ia mengungkapkan bahwa demi menjaga agar data center tersebut tetap beroperasi, Kenya mungkin harus melakukan pemadaman listrik di separuh wilayah negara. Proyek ini pertama kali diumumkan pada bulan Mei 2024 ketika Ruto melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.

Rencana Pembangunan dan Kapasitas Energi

Data center ini direncanakan akan dibangun di daerah Olkaria, yang terletak di Rift Valley, dan akan memanfaatkan sumber energi panas bumi (geothermal). Dalam proyek ini, G42 bertanggung jawab sebagai pemimpin pembangunan, sementara Microsoft akan menyediakan layanan cloud Azure yang akan digunakan di fasilitas tersebut, terutama untuk melayani pelanggan di wilayah Afrika Timur.

Pada tahap awal, proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas 100 megawatt dan diharapkan mulai beroperasi tahun ini. Dalam jangka panjang, kapasitasnya direncanakan dapat meningkat hingga 1 gigawatt. Namun, besarnya kebutuhan daya yang diperlukan menyebabkan proyek ini mengalami penundaan.

Dampak Terhadap Ketersediaan Listrik Nasional

Saat ini, total kapasitas listrik Kenya berkisar antara 3.000 hingga 3.200 megawatt, dengan konsumsi puncak mencapai sekitar 2.444 megawatt. Jika proyek ini mencapai kapasitas maksimal 1 gigawatt, data center tersebut dapat menyerap sekitar sepertiga dari total kapasitas listrik nasional Kenya. Bahkan untuk kapasitas awal sebesar 100 megawatt, proyek ini diperkirakan akan mengambil porsi besar dari kompleks panas bumi Olkaria yang saat ini memproduksi sekitar 950 megawatt.

Meski demikian, pemerintah Kenya menegaskan bahwa proyek ini belum sepenuhnya dibatalkan. Sekretaris Kementerian Informasi Kenya, John Tanui, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Microsoft masih terus berlangsung. Ia menambahkan bahwa skala proyek yang diinginkan oleh Microsoft memerlukan penyesuaian lebih lanjut.

Data center ini menjadi fasilitas pertama yang dikembangkan antara Microsoft dan G42, terutama setelah Microsoft menginvestasikan 1,5 miliar dolar AS ke G42 pada tahun 2024. Kerja sama ini muncul setelah G42 setuju untuk melepaskan investasi terkait dengan China dan menghapus perangkat Huawei dari sistem mereka akibat tekanan dari Amerika Serikat.

Artikel Terkait