Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 27 Oktober 2026. Hal ini dipicu oleh berbagai laporan terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi sentimen pasar.
Berdasarkan informasi dari Antara, rupiah dibuka dengan nilai 18.140 per dolar AS, mengalami penurunan tipis sebesar 5 poin atau 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di 18.135 per dolar AS. Analis mengungkapkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah ini berkaitan dengan berbagai laporan dari Timur Tengah, termasuk potensi serangan AS terhadap Iran dan upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut.
Pertemuan Diplomatik di Teheran
Seiring dengan itu, Anadolu melaporkan bahwa pertemuan empat pihak yang melibatkan delegasi dari Turkiye, Arab Saudi, Pakistan, dan Iran telah dimulai di Teheran pada Senin, 26 Oktober 2026. Fokus dari pertemuan ini adalah untuk membahas isu-isu keamanan regional, aktivitas Israel, serta situasi di Palestina dan Lebanon. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Iran, Pezeshkian, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, hadir. Turkiye diwakili oleh Direktur Organisasi Intelijen Nasional, Ibrahim Kalin, sementara Arab Saudi diwakili oleh Menteri Pertahanan, Pangeran Khalid bin Salman, dan Pakistan diwakili oleh Kepala Staf Angkatan Darat, Asim Munir.
Operasi Militer AS yang Mengkhawatirkan
Selain itu, laporan dari Xinhua menyebutkan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan operasi militer baru yang dapat berskala besar terhadap Iran dalam waktu 96 jam setelah menerima perintah dari Presiden AS, Donald Trump. Pasukan yang cukup telah dikerahkan di kawasan Timur Tengah untuk melaksanakan kemungkinan serangan tersebut. Beberapa pejabat AS meyakini bahwa perintah dari Trump bisa saja dikeluarkan sebelum akhir tahun, kemungkinan setelah pemilihan umum paruh waktu di AS.
Melihat kondisi domestik, arus keluar dana asing di pasar saham juga dianggap sebagai faktor yang membebani nilai tukar rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, analis memprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran 18.100 hingga 18.200 per dolar AS. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, rupiah tercatat merosot ke level 18.135 per dolar AS, turun 55 poin atau 0,30% dari penutupan sebelumnya yang berada di 18.080 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan, dengan nilai tukar hari ini berada di Rp 18.116 per dolar AS, turun dari Rp 18.069 per dolar AS sebelumnya. Ekonom dari Bank Danamon, Faiz Irman, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi dari tekanan global dan risiko domestik. Harga minyak yang tinggi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi, yang pada gilirannya menjaga risiko inflasi global dan berpotensi membuat suku bunga AS tetap tinggi lebih lama. Investor tampak berhati-hati menjelang keputusan dari The Federal Reserve (the Fed) yang akan datang.
Faiz menambahkan bahwa indeks DXY berada di sekitar 101,8, menunjukkan ketahanan sementara ketidakpastian MSCI menambah risiko penjualan saham asing dan repatriasi dana. Ia juga mencatat bahwa surplus perdagangan yang menyempit mengurangi bantalan pasokan devisa, sehingga membuat rupiah lebih sensitif terhadap perubahan arus modal. Dalam konteks ekonomi, Faiz menjelaskan bahwa koreksi nilai tukar rupiah ini dapat dipahami sebagai respons terhadap perubahan kondisi eksternal dan meningkatnya premi risiko Indonesia.
Investor kini memerlukan kompensasi yang lebih besar untuk memegang aset dalam rupiah, yang penyesuaiannya dapat terjadi melalui kenaikan imbal hasil atau pelemahan nilai tukar. Namun, meskipun dapat dijelaskan, tekanan yang dihadapi rupiah tidak boleh diabaikan. Ia mengingatkan bahwa kecepatan pelemahan, likuiditas pasar valas, dan keberlanjutan arus keluar modal perlu dicermati dengan seksama. Dalam skenario MSCI, potensi penjualan saham asing diperkirakan mencapai antara US$ 2,9 hingga US$ 5,8 miliar, yang merupakan skenario bersyarat jika terjadi penghapusan dari indeks, termasuk penyesuaian oleh investor aktif, bukan estimasi dana yang langsung keluar saat ini.