Jakarta - Inovasi digital dan modernisasi dalam bidang kedokteran terus mengubah cara pelayanan kesehatan di Indonesia. David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, menjelaskan bahwa penerapan teknologi medis, termasuk sistem bedah robotik dan kecerdasan buatan (AI), telah meningkatkan akurasi tindakan medis dan keselamatan pasien. Dalam konteks pembedahan, penggunaan teknologi robotik terbukti efektif dalam mengurangi risiko infeksi dan mempercepat proses pemulihan pasien melalui teknik bedah minimal invasif.
“Robot ini kan menjadi tools, lebih presisi, lebih akurat, dan mengurangi infeksi. Daripada membuka operasi besar, kita insisi-insisi kecil di mana tangan robotnya bisa masuk dan arahnya 360 derajat. Sehingga dengan insisi kecil tadi tingkat infeksi menjadi rendah, penyembuhan lebih cepat, dan pemulihan pasien untuk bisa beraktivitas lebih baik,” ungkap David saat ditemui di Jakarta pada hari Kamis, 22 Oktober 2026.
Pelopor Teknologi Robotik Medis di Indonesia
David menegaskan bahwa Siloam International Hospitals merupakan salah satu pelopor dalam mengoperasikan berbagai jenis robot medis di Indonesia untuk kebutuhan pembedahan yang spesifik. Untuk bidang bedah abdomen dan urologi, mereka telah menghadirkan dua unit robot da Vinci ke Indonesia, yang berlokasi di cabang Kebon Jeruk dan Asri.
Sementara itu, untuk prosedur ortopedi seperti penggantian lutut, panggul, dan tulang belakang, mereka telah menyiapkan robot-robot seperti VELYS, CORI, ROSA, dan Q-Vis, yang dilengkapi dengan teknologi Brainlab untuk bedah otak serta robot khusus untuk pembedahan mikro.
Transformasi Melalui Kecerdasan Buatan
Selain teknologi robotik untuk pembedahan, inovasi medis juga merambah ke bidang diagnostik dan pemantauan pasien kritis melalui pembentukan Enterprise AI Foundation. Salah satu implementasi di Siloam International Hospitals adalah sistem Smart ICU yang dirancang untuk memprediksi kondisi darurat pasien secara proaktif.
Dengan analisis prediktif ini, tim medis dapat melakukan langkah-langkah pencegahan sebelum kondisi pasien memburuk. “Sehingga tim dokter itu mulai menyiapkan sebelum pasien tersebut drop. Jadi beda banget, dulu kita bereaksi setelah pasiennya drop, sekarang 30 menit sebelum pasiennya drop kita mengantisipasi. Tindakan-tindakan seperti ini tentu tidak bisa dijalankan tanpa teknologi,” tutup David.