Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan bahwa penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun 2026 akan tetap sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Langkah ini diambil untuk menjaga defisit anggaran pada angka 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan terkait kebutuhan penerbitan SBN untuk menutupi kekurangan dalam pembiayaan anggaran negara di tahun mendatang. "Sesuai target," ungkap Suahasil saat hadir dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta pada hari Senin, 26 Oktober 2026.
Komitmen Terhadap Angka Defisit
Suahasil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mematuhi angka defisit yang telah disepakati, yang menjadi acuan utama dalam pelaksanaan APBN 2026. "Kita tetap bekerja dengan acuan target defisit 2,85% dari PDB," tambahnya.
Penerbitan SBN menjadi instrumen utama bagi pemerintah untuk menutupi defisit, terutama ketika penerimaan negara tidak mencukupi untuk menutupi seluruh pengeluaran. Pemerintah memastikan bahwa seluruh proses penerbitan akan dilakukan secara terukur sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Strategi Penerbitan Global Bond
Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga memastikan bahwa penerbitan global bond atau SBN dalam mata uang asing akan tetap dilanjutkan hingga akhir tahun 2026. Penentuan waktu dan jenis mata uang untuk penerbitan akan mempertimbangkan kondisi pasar yang ada.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan bahwa pemerintah masih memiliki fleksibilitas dalam menentukan strategi penerbitan global bond. Saat ini, pemerintah memiliki sisa kuota penerbitan sekitar US$ 2 miliar. "Fleksibel. Sisa tahun masih akan terbitkan valas (global bond), cuma kapan dan currency-nya, nanti sambil lihat market-nya juga," ujar Suminto di Kantor Kementerian Keuangan pada hari Selasa, 15 September 2026.
Suminto menambahkan bahwa pemerintah masih menggunakan beberapa mata uang yang tersedia dalam kerangka penerbitan SBN valas, termasuk dolar Amerika Serikat, euro, renminbi Tiongkok, dan yen Jepang. "Belum. Ya, kan kita sudah lengkap (denominasi SBN valas)," jelasnya.
Pemerintah belum menentukan negara atau pasar baru untuk penerbitan global bond tersebut. Suminto menekankan bahwa waktu dan denominasi penerbitan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar keuangan. Dengan strategi ini, penerbitan SBN valas hingga akhir tahun tidak akan terikat pada satu denominasi tertentu, sehingga pemerintah dapat memilih mata uang yang paling sesuai dengan situasi pasar saat itu.