Ekonomi kreatif diposisikan sebagai salah satu sektor yang berpotensi besar untuk menciptakan peluang usaha serta lapangan kerja bagi generasi muda, seiring dengan visi Indonesia Emas 2045. Namun, untuk mengembangkan sektor ini, diperlukan lebih dari sekadar ide dan kreativitas; dibutuhkan juga ekosistem usaha yang mendukung, akses untuk kolaborasi, serta kemampuan untuk mengubah gagasan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Isu ini menjadi salah satu topik utama dalam forum The Legacy Relay 2026 — Special Sumpah Pemuda Forum yang diselenggarakan oleh Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Forum ini merupakan bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang mempertemukan berbagai pelaku industri, pemimpin lembaga, akademisi, penggerak masyarakat, serta generasi muda untuk mendiskusikan kontribusi yang dapat diwariskan kepada Indonesia pada tahun 2045.
Pentingnya Kolaborasi dan Inovasi
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, hadir sebagai pembicara utama dan nasional. Diskusi dalam forum ini menyoroti bagaimana ide, budaya, kreativitas, dan teknologi dapat diintegrasikan untuk menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan. Tantangan yang dihadapi adalah memastikan bahwa kreativitas tidak hanya berhenti pada ide atau tren sementara, tetapi dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata.
Dalam sesi Generation Builders: Lightning Relay, beberapa pelaku industri dan penggerak usaha berbagi pandangan. Handoko Hendroyono, pendiri dan CEO Filosofi Kopi serta Mbloc Group, menjelaskan bagaimana gagasan dapat berkembang menjadi komunitas, bisnis, dan gerakan kreatif. Sementara itu, Dzaki Adinda Husna, pendiri The Mantra Group, berbicara tentang bagaimana usaha yang digagas oleh generasi muda dapat membuka peluang kerja, memperluas kolaborasi, dan memberikan dampak ekonomi bagi generasi mendatang.
Transformasi Digital dan Pelestarian Budaya
Pembahasan juga mencakup dampak dari perkembangan ekonomi digital terhadap dunia kerja. Ibnu Riza, Ketua Umum Indonesia Esports Association (IESPA), terlibat dalam dialog mengenai esports dan profesi baru, serta kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja. Di sisi lain, Rian Fahardhi, seorang kreator konten dan penggerak suara publik generasi Z, mengangkat isu literasi digital, kepercayaan publik, dan partisipasi melalui media sosial. Perkembangan platform digital memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk membangun audiens dan menyebarkan gagasan, meskipun keberlanjutan aktivitas tersebut tetap memerlukan kreativitas dan model usaha yang tepat.
Forum ini juga menyoroti pentingnya mengembangkan warisan budaya menjadi produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Dalam diskusi, Kusuma Ida Anjani, Direktur PT Mustika Ratu Tbk., mengemukakan bahwa pelestarian budaya tidak hanya sebatas dokumentasi atau seremoni, tetapi harus diiringi dengan pengembangan produk, inovasi, dan strategi usaha yang tepat agar kekayaan budaya dapat menjadi sumber nilai tambah bagi industri kreatif.
Selain diskusi, forum ini juga menghadirkan sesi 60 Seconds for Indonesia, yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan gagasan mengenai lingkungan, teknologi, inovasi, dan kesiapan menghadapi masa depan dunia kerja. KHC juga mempersiapkan buku berjudul The Legacy Relay 2026: 28 Gagasan untuk Indonesia 2045 sebagai hasil utama dari kegiatan ini. Tulisan peserta akan melalui proses kurasi dan penyuntingan sebelum diterbitkan sebagai kumpulan gagasan lintas generasi.
Penerbitan buku ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi pemikiran generasi saat ini serta bahan refleksi bagi generasi yang akan datang. KHC juga membuka peluang untuk kolaborasi lebih lanjut agar gagasan yang dikumpulkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan dan karya nyata. Forum ini turut menghadirkan Ilham Akbar Habibie, putra B.J. Habibie; Halida Nuriah Hatta, putri Mohammad Hatta; dan Joddy Mulyasetya Putra, canggah R.A. Kartini, yang berdiskusi dalam sesi The Legacy Table mengenai relevansi warisan pendidikan, integritas, ilmu pengetahuan, dan inovasi untuk masa depan Indonesia.