🔴 Breaking
Ekonomi

Proyeksi Penurunan Harga Minyak Dunia, Simak Analisis Terbaru

Harga minyak mentah diperkirakan akan mengalami penurunan setelah tidak berhasil menembus level resistance yang signifikan. Analis mengingatkan pentingnya memantau perkembangan pasar untuk menentukan...

Galang Mahesa

Penulis

26 October 2026
7 kali dibaca
Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)
Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Harga minyak mentah dunia, khususnya jenis West Texas Intermediate (WTI), diprediksi akan mengalami penyesuaian pada perdagangan yang berlangsung pada Senin (26/10/2026). Hal ini terjadi setelah harga gagal untuk mempertahankan penembusan di area resistance yang berada di kisaran US$ 102,51 hingga US$ 104,21.

Menurut analisis dari Dupoin Futures, kondisi false break ini membuka peluang bagi penurunan harga menuju level support di US$ 97,65 hingga US$ 95,25, selama tidak ada tekanan beli yang cukup kuat untuk mendorong harga melewati resistance secara meyakinkan. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menekankan bahwa kegagalan harga minyak untuk menembus area resistance merupakan sinyal penting dalam memprediksi arah pergerakan harga selanjutnya.

Pola Koreksi dan Level Penting

Dalam analisis teknikal, false break terjadi ketika harga berhasil menembus level penting tetapi tidak mampu mempertahankan posisinya. "Kondisi ini dapat mengindikasikan bahwa momentum beli belum cukup kuat untuk menopang kenaikan lebih lanjut," jelasnya. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh Dupoin Futures pada grafik harian, area US$ 102,51 hingga US$ 104,21 menjadi level resistance utama yang harus diperhatikan. Jika harga minyak WTI tidak berhasil menembus zona tersebut dengan valid, maka potensi tekanan bearish masih akan berlanjut.

Apabila tekanan jual meningkat, harga minyak diperkirakan akan menguji level support pertama di US$ 97,65. Jika level ini tidak mampu menahan penurunan, WTI berpotensi melanjutkan koreksi menuju US$ 95,25. Skenario ini mengacu pada kemungkinan terbentuknya pola ABC Correction, yang merupakan pola koreksi harga setelah tren penguatan mengalami hambatan. Namun, arah pergerakan selanjutnya tetap perlu dikonfirmasi melalui respons harga di pasar.

Faktor Fundamental dan Geopolitik

Peluang koreksi harga minyak WTI sangat bergantung pada kemampuan pasar untuk mempertahankan atau menembus level teknikal yang penting. Jika harga kembali menguat dan berhasil menembus resistance di kisaran US$ 102,51 hingga US$ 104,21, maka proyeksi bearish perlu dievaluasi karena kemungkinan kenaikan lanjutan bisa terjadi. Sebaliknya, jika terjadi kegagalan berulang dalam menembus zona tersebut, tekanan jual bisa semakin menguat. Dalam hal ini, level US$ 97,65 dan US$ 95,25 menjadi area yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar sebagai target koreksi yang potensial.

Selain faktor teknikal, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi fundamental, terutama risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik dan prospek permintaan energi global. Mengacu pada ringkasan dari Reuters, perkembangan geopolitik dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap ketersediaan minyak mentah. Kekhawatiran mengenai gangguan dalam produksi maupun distribusi berpotensi menopang harga minyak.

Namun, dukungan dari faktor pasokan saja mungkin tidak cukup untuk mendorong kenaikan berkelanjutan jika momentum beli melemah dan harga tidak dapat bertahan di atas level resistance. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan kombinasi antara sinyal teknikal dan perkembangan fundamental sebelum membuat kesimpulan mengenai arah harga minyak ke depannya.

Prospek permintaan energi global juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga minyak. Jika permintaan diperkirakan akan melemah, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam merespons kenaikan harga. Sebaliknya, meningkatnya risiko gangguan pasokan dapat membatasi penurunan harga minyak karena pasar memperhitungkan potensi berkurangnya ketersediaan minyak mentah. Dalam situasi ini, volatilitas harga WTI berpotensi meningkat seiring dengan perubahan sentimen terhadap pasokan dan permintaan.

Dupoin Futures memperkirakan bahwa harga minyak WTI berpeluang bergerak menuju level US$ 97,65 hingga US$ 95,25 selama belum mampu menembus area resistance di kisaran US$ 102,51 hingga US$ 104,21 secara valid. Pelaku pasar juga perlu memantau pergerakan di sekitar level US$ 101 yang disebut dalam ringkasan Reuters sebagai bagian dari perkembangan pasar. Kemampuan harga untuk menembus dan mempertahankan level tersebut dapat menjadi salah satu indikator perubahan momentum, namun harus dikonfirmasi dengan pergerakan harga berikutnya.

Dengan demikian, arah harga minyak masih ditentukan oleh interaksi antara sinyal teknikal, ekspektasi permintaan energi, dan risiko geopolitik. Proyeksi koreksi tetap menjadi pandangan Dupoin Futures, namun bukan jaminan bahwa harga akan turun ke level yang ditargetkan.

Artikel Terkait