Jakarta - Indonesia kini menghadapi tantangan dalam bersaing dengan negara-negara lain dalam pengembangan layanan teknologi robotik di sektor kesehatan. Malaysia dan Vietnam menjadi dua negara yang perlu diperhatikan karena semakin agresif dalam menawarkan layanan medis berteknologi tinggi.
Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Agus Tjahajana Wirakusumah, menyatakan bahwa Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dalam hal layanan robotik kesehatan. Vietnam juga menunjukkan kemajuan yang signifikan, yang perlu diwaspadai oleh Indonesia. "Jadi Indonesia tentu pertama harus mulai melakukan kompetisi dengan Malaysia dan harus bersiap-siap dengan Vietnam," ungkap Agus.
Menanggapi Posisi Singapura dan Biaya Layanan
Agus mengaku belum mengetahui posisi Singapura dalam persaingan ini. Namun, ia menilai Malaysia kini lebih unggul dalam hal biaya layanan, sedangkan Vietnam menunjukkan langkah yang lebih agresif dalam beberapa kasus. "Dibanding dengan Malaysia, kita masih di bawah. Saya tidak tahu dengan Singapura saat ini, karena Singapura sepertinya sudah mulai kalah oleh Malaysia, sehingga kalah itu lebih ke arah cost," ujarnya.
Menurut Agus, tantangan utama bagi Indonesia bukan hanya terletak pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada kepercayaan pasien terhadap layanan robotik kesehatan yang ada di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya menjelaskan kepada masyarakat bahwa kemampuan layanan robotik di Indonesia tidak kalah dengan negara lain.
Perlunya Membangun Kepercayaan Pasien
Agus mencontohkan bahwa salah satu rumah sakit di Indonesia telah menggunakan teknologi robotik selama sekitar 16 tahun. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya telah mengadopsi teknologi ini sejak waktu yang tidak jauh berbeda dengan negara lain. Namun, Agus menilai perkembangan pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia sempat mengalami perlambatan.
Dalam dekade terakhir, perkembangan teknologi robotik di bidang kesehatan mulai meningkat pesat, termasuk pembaruan model robot yang digunakan di rumah sakit. "Saya sangat menghargai Bunda itu struggling. Dia harus meyakinkan dunia bahwa dia mampu. Ini yang sebenarnya harus kita lihat," tambahnya.
Saat ini, beberapa rumah sakit swasta juga mulai mengembangkan layanan berbasis teknologi robotik. Agus berharap dukungan dari pemerintah, termasuk penyediaan anggaran untuk pengadaan robot kesehatan, dapat mempercepat pengembangan layanan tersebut di Indonesia. "Saya harapkan ini akan terakselerasi dengan cepat dalam satu-dua tahun," katanya.
Peluang Devisa dan Strategi Layanan Kesehatan
Agus juga menyoroti potensi devisa yang hilang akibat masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri, yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 170 triliun. Ia menilai dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat layanan kesehatan domestik. "Saya kira begini, uang yang bocor Rp 170 triliun. Jadi kita nggak usah cari dulu dari BPJS, coba cover aja dulu itu, bawa balik ke dalam negeri dan itu disebar ke berbagai RS yang ada," jelasnya.
Dia berharap rumah sakit dapat menyusun strategi pelayanan yang mengutamakan kualitas hasil pengobatan dan menekan biaya agar lebih terjangkau. Agus menilai layanan robotik kesehatan tetap memiliki potensi bersaing meskipun harga perangkatnya relatif mahal. Biaya pengobatan di dalam negeri diharapkan dapat lebih rendah dibandingkan jika pasien harus pergi ke luar negeri.
Selain itu, Agus membuka peluang bagi asuransi swasta untuk turut menanggung layanan robotik kesehatan. Menurutnya, pembiayaan tidak harus sepenuhnya bergantung pada BPJS Kesehatan, terutama saat sistem pembiayaan dan efisiensi layanan kesehatan nasional masih dalam proses perbaikan.
Agus menambahkan bahwa Indonesia perlu membandingkan jumlah dan jenis robot yang digunakan di dalam negeri dengan Malaysia dan Vietnam. Perbandingan ini, termasuk perhitungan biaya layanan, penting untuk menyusun strategi agar Indonesia mampu bersaing dalam menarik pasien. Dengan peningkatan kualitas pelayanan, efisiensi biaya, dan kepercayaan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai tujuan layanan kesehatan berteknologi robotik dan mengurangi ketergantungan pada pengobatan di luar negeri.