🔴 Breaking
Kesehatan

--- Tahun Ajaran Baru: Waspadai Risiko Miopia pada Anak ---

--- Pekan ini, jutaan anak di Indonesia memulai tahun ajaran baru, namun orang tua diingatkan untuk waspada terhadap risiko miopia yang meningkat akibat gaya hidup anak yang berubah. ---

Eko Prasetyo

Penulis

13 July 2026
16 kali dibaca
Ilustrasi anak mata minus (Foto: Annissa Widya/detikHealth)
Ilustrasi anak mata minus (Foto: Annissa Widya/detikHealth)
---TITLEEXCERPT--- Pekan ini, jutaan anak di Indonesia memulai tahun ajaran baru, namun orang tua diingatkan untuk waspada terhadap risiko miopia yang meningkat akibat gaya hidup anak yang berubah. ---CONTENT---

Pekan ini menjadi waktu yang sibuk bagi jutaan anak di Indonesia yang merayakan hari pertama masuk sekolah. Di balik semangat menyambut tahun ajaran baru, para orang tua diimbau untuk memperhatikan ancaman kesehatan yang mengintai anak-anak mereka, yaitu meningkatnya risiko miopia atau mata minus yang berkembang dengan cepat.

Perubahan gaya hidup anak-anak saat ini menjadi salah satu penyebab utama lonjakan kasus miopia. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang pulang sekolah lebih awal, anak-anak sekarang sering kali menghadapi beban sekolah yang berat hingga sore hari, dan sering kali harus melanjutkan dengan berbagai jadwal les akademis.

Jadwal Padat dan Dampaknya

Jadwal yang padat ini memaksa anak untuk menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas melihat jarak dekat, terutama menatap layar gawai secara berlebihan. Akibatnya, mereka kehilangan waktu berharga untuk bermain di luar ruangan dan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi antara kurangnya aktivitas di luar ruangan dan tingginya intensitas aktivitas jarak dekat dapat mempercepat kerusakan fungsi penglihatan anak, bahkan sebelum mereka mencapai usia 8 tahun. "Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ungkap dr. Julie saat ditemui di Jakarta.

Pentingnya Intervensi Dini

Secara biologis, anak berusia 6 hingga 7 tahun seharusnya memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri, yang berfungsi melindungi mata mereka dari risiko miopia dini. Namun, jika cadangan ini menipis atau hilang lebih cepat dari seharusnya, anak tersebut dapat masuk ke fase pre-miopia, di mana mata anak belum sepenuhnya minus, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda akan mengalami miopia progresif.

Menurut dr. Julie, anak-anak yang paling rentan mengalami fase pre-miopia adalah mereka yang memiliki riwayat orang tua bermata minus dan gaya hidup yang minim aktivitas di luar rumah. Fase ini, yang terjadi pada awal masa sekolah, merupakan waktu yang tepat bagi orang tua dan dokter untuk melakukan intervensi sebelum kondisi mata anak memburuk.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi miopia tinggi hingga miopia patologis. Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem ini berisiko menyebabkan komplikasi serius pada organ mata, seperti atrofi retina, myopic maculopathy, hingga neuropati optik yang dapat mengakibatkan gangguan penglihatan berat dan permanen. "Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tegas dr. Julie.

Artikel Terkait