🔴 Breaking
Teknologi

Tantangan Walmart dalam Mengganti Pekerja dengan Robot di Gudang

Walmart berupaya menggantikan sebagian besar tenaga kerja di gudang dengan robot, namun menghadapi berbagai kendala teknis dan biaya. Meskipun telah melakukan investasi besar, implementasi otomatisasi...

Maya Soraya Larasati

Penulis

13 October 2026
6 kali dibaca
Walmart memperkirakan bahwa gudang pada akhirnya akan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja manusia, sehingga dapat memangkas biaya. (Felipe Sanchez – stock.adobe.com via The New York Post)
Walmart memperkirakan bahwa gudang pada akhirnya akan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja manusia, sehingga dapat memangkas biaya. (Felipe Sanchez – stock.adobe.com via The New York Post)

Walmart, perusahaan ritel besar asal Amerika Serikat, sedang berusaha untuk menggantikan sejumlah pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh lebih dari 140.000 pekerja di gudang dengan teknologi robot. Selama bertahun-tahun, pekerja ini bertanggung jawab untuk membongkar muatan truk, memindahkan palet barang menggunakan forklift, menata barang di rak penyimpanan, serta mengirimkan barang ke toko dan pelanggan. Untuk merealisasikan rencana tersebut, Walmart telah menginvestasikan miliaran dolar AS guna mengotomatiskan proses di gudang-gudangnya. Dengan otomatisasi, perusahaan berharap dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi dalam penyimpanan, pemilahan, dan pengiriman barang. Langkah ini juga diambil untuk bersaing dengan perusahaan lain, termasuk Amazon, yang lebih dahulu menerapkan otomatisasi di gudangnya.

Kendala dalam Implementasi Otomatisasi

Namun, ambisi Walmart yang telah direncanakan selama satu dekade ini tidak berjalan mulus. Berdasarkan laporan dari media, Walmart menghadapi berbagai tantangan teknis dan biaya dalam program otomatisasi di sekitar 200 fasilitas gudangnya. Robot yang dikerahkan oleh Walmart ternyata mengalami kesulitan dalam menangani beberapa pekerjaan fisik sederhana, seperti memindahkan kardus besar dan mengangkut karung makanan anjing serta kalkun beku. Salah satu tugas yang menjadi tantangan bagi robot adalah proses yang dikenal sebagai breakpack, di mana pekerja mengeluarkan barang dari kardus pengiriman untuk dikemas atau dikirim secara terpisah.

Sebuah pusat pemenuhan pesanan Walmart di Illinois mempekerjakan tenaga kerja manusia dan sistem otomatisasi. Bagi pekerja manusia, tugas tersebut relatif sederhana. Namun, robot yang digunakan oleh Walmart mengalami kesulitan dalam menangani kardus dengan ukuran yang telah digunakan perusahaan selama lebih dari 20 tahun. Walmart bahkan mengingatkan pekerjanya untuk menggunakan kembali kardus yang harganya sekitar 1 dolar AS per kotak untuk menghemat biaya. Saat ini, Walmart berencana untuk mengganti kardus lama dengan ukuran yang lebih pendek sekitar 1,5 inci atau 3,8 sentimeter, yang juga membutuhkan penutupan menggunakan selotip, menambah satu tahapan pekerjaan dan biaya operasional.

Masalah Biaya dan Pemeliharaan Robot

Philip McIlrath, manajer gudang pakaian Walmart di Indiana, menyatakan bahwa meskipun perubahan ukuran kardus terlihat kecil, hal ini cukup memengaruhi rutinitas pekerja. Di sisi lain, Walmart percaya bahwa kardus baru dapat mempercepat proses penataan barang di toko dan pada akhirnya mengurangi biaya tenaga kerja. Namun, masalah lain muncul ketika robot harus memindahkan barang yang terlalu besar atau berat. Di gudang Walmart di Brooksville, Florida, sekitar 80 persen inventaris sudah dipindahkan menggunakan sistem otomatis, tetapi 20 persen sisanya masih sulit ditangani mesin, termasuk televisi besar dan karung makanan anjing. Robot juga pernah mengalami kesulitan saat menangani kalkun beku berukuran besar menjelang periode belanja Thanksgiving beberapa tahun lalu.

Selain tantangan dalam menangani ukuran dan bentuk barang, Walmart juga menghadapi kendala dalam menjaga agar robot tetap berfungsi. Robot yang dikembangkan oleh perusahaan Symbotic dilaporkan membutuhkan perbaikan dan perawatan yang cukup sering. Debu yang menumpuk dapat mengganggu kinerja mesin dan memicu gangguan berantai dalam proses di gudang. Menurut juru bicara Symbotic, kurang dari 10 persen robot mereka sedang dalam perbaikan pada satu waktu tahun lalu, dan angka tersebut menurun menjadi sekitar 5 persen dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun ada perbaikan, kendala teknis ini tetap menjadi tantangan bagi Walmart untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan barang sesuai dengan target perusahaan.

Otomatisasi juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional di sejumlah fasilitas. Tagihan listrik bulanan di gudang bahan makanan Walmart yang telah menerapkan sistem otomatis bisa mencapai 800.000 dolar AS (sekitar Rp 14,3 miliar) atau lebih saat kebutuhan pendinginan dan pemanasan tinggi. Sebagai perbandingan, tagihan listrik fasilitas tersebut sebelumnya sekitar 250.000 dolar AS (sekitar Rp 4,4 miliar) per bulan ketika masih mengandalkan tenaga manusia. Hal ini menunjukkan bahwa biaya listrik pada periode tertentu bisa lebih dari tiga kali lipat. Walmart juga memerlukan tenaga ahli di bidang mekanik dan kelistrikan untuk mengoperasikan serta memperbaiki sistem otomatis.

Meski menghadapi berbagai hambatan, Walmart tetap memandang otomatisasi sebagai investasi jangka panjang. Pihak Walmart juga menegaskan bahwa otomatisasi tidak berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang dalam waktu dekat. Gudang tetap memerlukan pekerja untuk tugas-tugas yang belum dapat ditangani oleh mesin, termasuk membongkar muatan truk dan menangani barang-barang tertentu.

Artikel Terkait