🔴 Breaking
Xbox Luncurkan Divisi Hiburan XP, Siapkan Beragam Proyek dari Film hingga Taman Hiburan Amerika Serikat Anjurkan Warganya Hindari Perjalanan ke Rusia Terkait Dugaan Kasus Pes Dosen UIN Saizu Muh. Hanif Meraih Dua Penghargaan Internasional di KAICIE 2026 --- Kenaikan Harga Emas di Pegadaian 10 Oktober 2026: Galeri24, Antam, dan UBS --- BRI Luncurkan Tiga Produk Reksa Dana Baru dengan Investasi Awal Terjangkau Kaji Tarif Minimum Angkutan Darat, Pemerintah Cegah Perang Harga Ekstrem Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Menhub Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan Transportasi Konsekuensi Hasil Putusan MK: Gibran Terdiskualifikasi Secara Hukum Ketergantungan Daerah pada Transfer Pusat Terungkap, 491 Daerah Tak Mampu Biayai Gaji Pegawai dari PAD Pentingnya Peran Operator Sekolah Rakyat dalam Keakuratan Data Pendidikan Xbox Luncurkan Divisi Hiburan XP, Siapkan Beragam Proyek dari Film hingga Taman Hiburan Amerika Serikat Anjurkan Warganya Hindari Perjalanan ke Rusia Terkait Dugaan Kasus Pes Dosen UIN Saizu Muh. Hanif Meraih Dua Penghargaan Internasional di KAICIE 2026 --- Kenaikan Harga Emas di Pegadaian 10 Oktober 2026: Galeri24, Antam, dan UBS --- BRI Luncurkan Tiga Produk Reksa Dana Baru dengan Investasi Awal Terjangkau Kaji Tarif Minimum Angkutan Darat, Pemerintah Cegah Perang Harga Ekstrem Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Menhub Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan Transportasi Konsekuensi Hasil Putusan MK: Gibran Terdiskualifikasi Secara Hukum Ketergantungan Daerah pada Transfer Pusat Terungkap, 491 Daerah Tak Mampu Biayai Gaji Pegawai dari PAD Pentingnya Peran Operator Sekolah Rakyat dalam Keakuratan Data Pendidikan
Kesehatan

Amerika Serikat Anjurkan Warganya Hindari Perjalanan ke Rusia Terkait Dugaan Kasus Pes

Amerika Serikat mengeluarkan imbauan bagi warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Rusia setelah muncul dugaan kasus pes di Siberia yang menyebabkan kematian.

Bima Sakti

Penulis

10 October 2026
5 kali dibaca
Foto: REUTERS/Stringer
Foto: REUTERS/Stringer

Amerika Serikat telah mengingatkan warganya untuk menunda perjalanan ke Rusia menyusul laporan dugaan kasus pes di wilayah Siberia. Imbauan ini disampaikan melalui akun resmi Departemen Luar Negeri AS di platform media sosial X pada hari Selasa, di mana mereka mengonfirmasi bahwa Kedutaan Besar AS telah menerima informasi mengenai kasus tersebut di Irkutsk.

Dugaan kasus pes ini dilaporkan telah menyebabkan seorang warga meninggal dunia, yang kemudian diikuti dengan langkah-langkah karantina dan penutupan beberapa rumah sakit di daerah tersebut. "Kami terus memantau situasi ini dengan saksama. Pemerintah AS memiliki kemampuan terbatas untuk membantu warganya di Rusia, terutama bagi mereka yang berada di luar Moskow," ungkap Departemen Luar Negeri AS.

Peringatan Perjalanan Masih Berlaku

Departemen Luar Negeri menegaskan bahwa peringatan perjalanan dengan Level 4, yang berarti tidak disarankan untuk bepergian, tetap berlaku untuk Rusia. Warga negara AS yang saat ini berada di Rusia juga disarankan untuk segera meninggalkan negara tersebut.

Pada hari Senin (5/10/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan kekhawatirannya terkait dugaan kasus pes ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah AS sedang mengawasi perkembangan situasi dengan serius. "Saya tidak suka melihat mereka mengalami hal ini. Ini penyakit yang berat. Dahulu kita bisa mengendalikannya, tetapi entah bagaimana mikroba tersebut menjadi lebih kuat dan lebih pintar," kata Trump kepada wartawan sebelum berangkat dari Gedung Putih menuju Nebraska.

Perkembangan Kasus di Rusia

Pada hari Minggu (4/10), badan pengawas perlindungan konsumen Rusia melaporkan bahwa seorang perempuan yang bekerja di lembaga penelitian penyakit pes meninggal dunia akibat "pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui," menurut laporan dari NBC News. Namun, pihak berwenang Rusia belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab pasti kematian tersebut.

Sebelumnya, AS telah mengeluarkan larangan perjalanan bagi warganya ke Rusia. Peringatan perjalanan Level 4: Do Not Travel ini diterbitkan pada 29 Desember 2025, dengan alasan risiko yang ditimbulkan oleh konflik Rusia-Ukraina.

Artikel Terkait