Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, harga emas dari Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian menunjukkan peningkatan yang signifikan. Emas Antam masih menjadi yang termahal, mencapai Rp 2,63 juta per gram.
Berdasarkan informasi dari Pegadaian yang diperoleh pada pukul 11.47 WIB, harga emas Galeri24 tercatat sebesar Rp 2.532.000 per gram. Sementara itu, harga emas Antam ditetapkan pada Rp 2.631.000 per gram, dan harga emas UBS berada di angka Rp 2.556.000 per gram. Dengan demikian, emas Antam menjadi yang termahal di antara ketiga produk logam mulia tersebut.
Kenaikan Harga Emas Dibandingkan Hari Sebelumnya
Ketiga produk logam mulia ini juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan harga pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, harga emas Galeri24 berada di Rp 2.505.000 per gram, emas Antam di Rp 2.604.000 per gram, dan emas UBS di Rp 2.529.000 per gram.
Harga emas di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu, mengikuti kondisi pasar dan kebijakan harga yang berlaku. Pegadaian menawarkan emas batangan dengan berbagai pilihan berat. Untuk Galeri24, pilihan berat yang tersedia mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Emas UBS juga tersedia dalam berat mulai 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan emas Antam memiliki pilihan berat yang sama dengan Galeri24.
Pentingnya Memantau Harga Emas Terbaru
Perbedaan harga antara ketiga jenama memberikan opsi bagi masyarakat yang ingin membeli emas sesuai dengan merek dan kemampuan finansial. Namun, calon pembeli disarankan untuk selalu memeriksa harga terbaru sebelum melakukan transaksi, mengingat harga emas di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu.
Sebelumnya, harga emas dunia mengalami penguatan pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, mencapai level tertinggi dalam satu minggu. Kenaikan ini didorong oleh aksi beli di harga rendah setelah emas sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan di awal pekan. Pelaku pasar juga mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (the Fed).
Menurut informasi dari CNBC, harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.189,99 pada pukul 15.13 EDT. Logam mulia ini sempat mengalami penurunan ke level terendah dalam dua bulan pada Rabu lalu akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menekan aset tanpa imbal hasil.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 1,43% ke level US$ 4.216,3 per ons, dengan kenaikan mingguan sebesar 1,3%. Analis Stone X, Rhona O’Connell, menyatakan, "Harga emas menguat karena adanya aksi beli di harga rendah, mengingat terbentuknya batas bawah di kisaran level US$ 4.000." Ia juga menambahkan bahwa potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed sudah tercermin dalam harga pasar, tetapi ekspektasi untuk pembelian bersih oleh sektor resmi tetap ada.
Tanpa adanya peristiwa tak terduga yang berdampak besar, sulit untuk melihat harga emas menembus ke level yang lebih tinggi secara meyakinkan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade yang dicapai pada hari Rabu.
Presiden The Fed wilayah St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan bahwa bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mengembalikan inflasi ke target 2%. Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME, para pedagang memperkirakan peluang sebesar 19% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober dan probabilitas 84% untuk setidaknya satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember.
Emas cenderung kehilangan daya tariknya dibandingkan dengan aset-aset yang memberikan imbal hasil dalam lingkungan suku bunga tinggi. Kepala analis pasar di Bybit, Han Tan, mengungkapkan bahwa rilis data CPI pekan depan dapat menjadi katalis bagi pergerakan besar emas berikutnya. Inflasi yang masih tinggi dapat mendorong The Fed untuk melakukan siklus kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Sementara itu, permintaan emas di India menunjukkan penurunan pekan ini seiring dengan naiknya harga, dan aktivitas perdagangan di China, sebagai negara konsumen utama, berjalan lambat akibat libur yang lebih panjang.
Di antara logam lainnya, harga perak spot juga mengalami kenaikan sebesar 2,7% menjadi US$ 60,93 per ons.