🔴 Breaking
Putin Sebut Elon Musk sebagai Jenius Sejati dalam Konteks Persaingan Satelit Klarifikasi BGN Terkait Insentif Rp 1 Triliun untuk Pemda dalam Program MBG --- Bantuan Bedah Rumah Kini Juga untuk Warga Kontrakan --- Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Putin Sebut Elon Musk sebagai Jenius Sejati dalam Konteks Persaingan Satelit Klarifikasi BGN Terkait Insentif Rp 1 Triliun untuk Pemda dalam Program MBG --- Bantuan Bedah Rumah Kini Juga untuk Warga Kontrakan --- Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja
Ekonomi

--- Jepang Akan Mulai Mengurangi Subsidi Bensin pada Desember 2026 ---

--- Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengumumkan rencana pengurangan subsidi bensin secara bertahap mulai Desember 2026. Langkah ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran finansial terkait biaya...

Arjuna Mahendra

Penulis

31 October 2026
11 kali dibaca
Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)
Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)
---TITLEEXCERPT--- Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengumumkan rencana pengurangan subsidi bensin secara bertahap mulai Desember 2026. Langkah ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran finansial terkait biaya besar dari kebijakan tersebut. ---CONTENT---

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengungkapkan bahwa pemerintah akan mulai mengurangi subsidi untuk bensin dan bahan bakar lainnya secara bertahap mulai bulan Desember 2026. Pengumuman ini disampaikan pada hari Kamis, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi keuangan negara akibat kebijakan yang sebelumnya dirancang untuk menanggulangi lonjakan harga.

Menurut laporan dari Mainichi, Takaichi juga menyatakan bahwa pemerintah akan memberikan subsidi untuk tagihan listrik dan gas pada musim dingin ini, mirip dengan yang dilakukan pada tahun lalu. Diperkirakan, langkah ini akan menghemat pengeluaran rata-rata rumah tangga sebesar 7.000 yen atau sekitar US$ 44 selama tiga bulan mulai Desember, yang setara dengan sekitar Rp 797.830.

Pertimbangan Keuangan dan Strategi Keluar

Keputusan untuk mengurangi subsidi ini muncul setelah adanya usulan dari partai penguasa dan partai oposisi untuk meninjau kembali program subsidi bensin secara bertahap, serta mempertimbangkan strategi keluar, mengingat beban finansial yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Jepang saat ini menghadapi kondisi fiskal yang cukup sulit dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.

Sejak bulan Maret, subsidi bensin telah diberlakukan untuk membatasi harga eceran di kisaran 170 yen per liter. Takaichi menjelaskan bahwa target harga tersebut akan dinaikkan sebesar 5 yen setiap bulan menjelang musim semi, sembari terus memantau tren harga minyak mentah.

Subsidi Sebagai Langkah Transisi

Ia menambahkan bahwa subsidi bahan bakar yang diperkenalkan bertujuan untuk menekan kenaikan harga di tengah kekhawatiran akan pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah, merupakan langkah transisi untuk mengurangi dampak terhadap harga. Oleh karena itu, sistem ini perlu diubah agar lebih berkelanjutan.

Takaichi juga mengungkapkan bahwa subsidi bensin saat ini telah melampaui 50 yen atau Rp 5.753 per liter, dengan total biaya yang melebihi 10 miliar yen atau Rp 1,15 triliun per hari. Sejak ia menjabat pada bulan Oktober tahun lalu, total biaya untuk mendanai kebijakan ini telah mencapai sekitar 1,4 triliun yen.

Harga minyak mentah global mengalami lonjakan yang signifikan setelah Selat Hormuz hampir tertutup akibat konflik antara AS-Israel dan Iran yang terjadi pada akhir Februari. Jepang, sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang terbatas, sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.

Artikel Terkait