Jakarta - Tren penurunan gaya hidup atau downgrade lifestyle kini banyak dilakukan oleh masyarakat seiring dengan kondisi ekonomi yang mengharuskan mereka untuk lebih selektif dalam berbelanja. Namun, para ahli kesehatan memperingatkan agar penghematan yang dilakukan tidak mengakibatkan penundaan dalam menjalani pemeriksaan kesehatan dan skrining medis.
Dr. dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang merupakan dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), menyatakan bahwa pemeriksaan kesehatan sering kali dianggap bukan sebagai prioritas mendesak, terutama bagi individu yang merasa sehat dan tidak merasakan keluhan apa pun. Ia menekankan bahwa keputusan untuk menunda pemeriksaan dapat menyebabkan risiko kesehatan yang baru terdeteksi pada saat kondisinya sudah parah.
Risiko Kesehatan yang Terabaikan
“Yang saya khawatirkan dari fenomena downgrade gaya hidup adalah masyarakat tidak hanya mengurangi belanja tersier, tetapi juga mulai menunda medical check-up dan skrining kesehatan. Padahal, banyak penyakit berkembang diam-diam tanpa gejala dan bisa dideteksi dini lewat skrining rutin,” ungkap dr. Ray dalam keterangan tertulisnya.
Menurut dr. Ray, beberapa kondisi seperti hipertensi, diabetes, anemia, hingga gangguan fungsi organ dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang bisa saja merasa sehat, tetap bekerja, dan beraktivitas seperti biasa, meskipun risiko kesehatan tersebut terus meningkat.
“Pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk orang yang sedang sakit. Justru ketika merasa sehat, skrining diperlukan untuk mengetahui apakah ada risiko yang sedang tumbuh tanpa disadari,” jelasnya.
Pentingnya Memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis
Di tengah situasi ekonomi yang memaksa masyarakat untuk mengatur ulang pengeluaran, dr. Ray mengingatkan agar memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ia berpendapat bahwa program ini dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan deteksi dini dan membantu masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar tanpa menambah beban biaya.
“Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi,” tegas dr. Ray, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).
Ia menambahkan bahwa penghematan yang dilakukan dengan mengorbankan deteksi dini justru dapat berpotensi menjadi beban finansial yang lebih besar di kemudian hari. Penyakit yang terlambat terdeteksi dapat memerlukan terapi yang lebih lama dan pengobatan yang lebih kompleks, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga.
“Menunda membeli barang konsumtif mungkin merupakan penghematan. Namun, menunda skrining kesehatan belum tentu menghemat. Bisa jadi kita hanya memindahkan biaya kecil hari ini menjadi biaya pengobatan yang jauh lebih besar pada kemudian hari,” ujarnya.
Oleh karena itu, dr. Ray mengingatkan bahwa fenomena downgrade lifestyle sebaiknya diimbangi dengan pemahaman yang baik tentang kesehatan. Masyarakat perlu memilah pengeluaran mana yang bisa dikurangi dan kebutuhan dasar apa yang tetap harus dipertahankan.
“Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit,” tutup dr. Ray.