Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan pada Sabtu (24/10/2026) bahwa sektor animasi memiliki kapasitas besar untuk menyerap banyak tenaga kerja. Tiga lulusan dari Balai Diklat Industri Denpasar telah menunjukkan kemampuan mereka dengan berpartisipasi dalam produksi film animasi berjudul Jumbo. Pemerintah berencana untuk serius mengembangkan ekosistem industri digital melalui peningkatan kompetensi dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan.
Peluang Kerja di Sektor Animasi
Industri animasi dinilai memiliki potensi yang signifikan untuk memperluas lapangan kerja di Indonesia. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, sektor ini tetap memerlukan keterlibatan manusia dalam proses produksi, terutama untuk menciptakan karya dengan detail dan kualitas yang tinggi. Menurut Sarmuji, industri animasi memiliki karakteristik padat karya, sehingga berpotensi menjadi salah satu sumber penyerapan tenaga kerja baru. Ia menekankan bahwa produksi animasi tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi, tetapi juga memerlukan banyak tenaga kreatif untuk mengerjakan berbagai detail.
“Saya agak surprise, ternyata itu tidak semata-mata pada modal, pada teknologi saja, tetapi juga pada karya. Termasuk animasi itu ternyata padat karya, menyerap tenaga kerja yang banyak karena detail-detailnya itu tetap harus dikerjakan oleh manusia,” ungkap Sarmuji.
Peran Talenta Lokal dalam Produksi Animasi
Temuan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri digital yang tidak hanya menghasilkan produk kreatif, tetapi juga menciptakan lebih banyak kesempatan kerja. Sarmuji menambahkan bahwa pemerintah ingin menjadikan sektor industri sebagai salah satu penggerak utama dalam penyerapan tenaga kerja. Potensi industri digital perlu dikembangkan lebih serius agar kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin signifikan. “Kita sudah bertekad industri harus menjadi ladang bagi penyerapan tenaga kerja secara maksimal, dan salah satunya justru pada industri digital ini kita temukan penyerapan tenaga kerjanya banyak sekali,” jelasnya.
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di industri animasi. Salah satu buktinya adalah keterlibatan talenta lokal dalam produksi film animasi Jumbo. Sarmuji menjelaskan bahwa ketiga orang yang terlibat dalam produksi tersebut adalah lulusan dari Balai Diklat Industri Denpasar. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan vokasi dapat menjadi jalur untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan industri kreatif.
Menurutnya, potensi ini perlu mendapat perhatian lebih agar semakin banyak talenta Indonesia dapat terlibat dalam produksi animasi dan menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. “Kalau kita seriusin, potensi anak-anak kita ternyata bisa. Hanya perlu perhatian dan concern kita sebagai anak bangsa,” tambahnya.
Pengembangan industri animasi tidak hanya bergantung pada kemampuan individu. Dukungan dalam bentuk peningkatan kompetensi tenaga kerja, fasilitas pelatihan yang memadai, serta kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pelaku industri sangat diperlukan untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan. Balai Diklat Industri Denpasar berperan dalam mendukung upaya ini melalui program pelatihan, pemagangan, dan kolaborasi dengan pelaku industri. Fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan oleh siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memperdalam pengetahuan dan meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.