🔴 Breaking
Nasional

Pentingnya Pengelolaan Air Gambut untuk Melindungi Habitat Satwa dari Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang di Indonesia mengancam keberadaan habitat satwa liar. Pengelolaan air gambut yang baik menjadi salah satu solusi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Fehardian Rahaja

Penulis

27 October 2026
7 kali dibaca
Asap kebakaran hutan (dok.Pixabay)
Asap kebakaran hutan (dok.Pixabay)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi di Indonesia tidak hanya membahayakan kelestarian hutan, tetapi juga mengancam habitat satwa liar. Salah satu langkah pencegahan yang dapat diambil adalah dengan menjaga agar kondisi gambut tetap basah melalui pengelolaan tata air yang tepat. Ketika gambut mengering dan terbakar, kerusakan ekosistem dapat menyebar luas, menghilangkan sumber pakan dan tempat berlindung bagi satwa.

Urgensi pengelolaan gambut dan perlindungan satwa menjadi fokus dalam UGM Podcast yang diadakan pada Kamis (15/10), yang menghadirkan anggota Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Diskusi ini menganalisis hubungan antara aktivitas manusia dengan kondisi lahan gambut serta dampak kebakaran terhadap keanekaragaman hayati. Prof. Benito Heru Purwanto, Guru Besar di Fakultas Pertanian UGM, menjelaskan bahwa gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Material organik ini sangat rentan terhadap kerusakan ketika kondisi hidrologinya terganggu.

Pentingnya Pengelolaan Tata Air

Pengelolaan tata air menjadi krusial untuk menjaga kelembapan gambut, terutama saat musim kemarau. Pembangunan kanal atau pengelolaan lahan yang dapat menurunkan muka air tanah dapat menyebabkan gambut mengering dan lebih mudah terbakar. Benito menekankan pentingnya memperhatikan sumber penyalaan api dalam upaya pencegahan kebakaran. "Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita," ujarnya.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap aktivitas manusia dalam pengelolaan lahan. Ketika gambut mengering dan ada sumber api, kebakaran dapat menjalar hingga ke lapisan organik di bawah permukaan tanah, membuat pemadaman menjadi lebih sulit. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat membakar lapisan yang lebih dalam. Menurutnya, penanganan kebakaran gambut memerlukan upaya pembasahan kembali atau rewetting untuk memulihkan kelembapan lahan.

Dampak Kebakaran terhadap Satwa Liar

Dampak dari karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan lahan gambut, tetapi juga mengancam satwa liar yang bergantung pada sumber daya hutan untuk makanan, tempat berlindung, dan aktivitas sehari-hari. Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, menjelaskan bahwa kebakaran dapat menghancurkan habitat serta sumber pakan satwa. Kerusakan vegetasi mengurangi ketersediaan tumbuhan yang diperlukan satwa untuk bertahan hidup. Wisnu menegaskan bahwa hilangnya sumber makanan menjadi masalah utama bagi satwa ketika hutan terbakar. "Masalah yang utama itu kehilangan sumber pakan karena kebakaran hutan," ungkapnya.

Selain kehilangan makanan dan tempat berlindung, satwa juga harus menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat asap serta luka karena permukaan tanah yang masih menyimpan bara. Beberapa satwa bahkan bisa mengalami kematian tanpa terdeteksi karena berada di bagian hutan yang sulit dijangkau. Kerusakan habitat juga dapat mendorong satwa untuk berpindah ke permukiman manusia. Ketika sumber makanan di hutan berkurang, satwa berpotensi memasuki lahan pertanian atau kawasan penduduk untuk mencari makan, yang dapat memperburuk konflik antara satwa liar dan masyarakat.

Pemulihan Hutan dan Keterlibatan Masyarakat

Oleh karena itu, pemulihan kawasan yang terbakar tidak serta merta mengembalikan fungsi habitat seperti semula. Vegetasi yang tumbuh kembali belum tentu dapat menyediakan jenis pakan yang sesuai dengan kebutuhan setiap satwa. Upaya restorasi habitat sebaiknya mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan kebutuhan ekologis satwa yang hidup di dalamnya. Langkah ini perlu diiringi dengan pencegahan kebakaran agar kerusakan serupa tidak terulang. Wisnu juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar hutan dan pelaku usaha yang memanfaatkan lahan. Edukasi serta pemantauan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian dari upaya untuk meminimalisir risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.

Artikel Terkait