🔴 Breaking
Ekonomi

Tantangan UMKM di Indonesia: Modal dan Akses Pasar yang Perlu Diperhatikan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia menghadapi tantangan besar terkait permodalan dan akses pasar, yang memerlukan perhatian serius untuk mendukung pertumbuhan mereka.

Fehardian Rahaja

Penulis

27 October 2026
7 kali dibaca
Ilustrasi UMKM Batik. Foto ist
Ilustrasi UMKM Batik. Foto ist

Pentingnya dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia menjadi sorotan, terutama dalam hal permodalan, pelatihan, dan akses pasar. Batik Kendal diharapkan dapat berperan sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata. Regenerasi perajin juga dianggap krusial untuk memastikan keberlanjutan industri batik lokal.

Wakil Ketua MPR RI dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, atau yang akrab disapa Ibas, menekankan bahwa penguatan UMKM tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk lokal. Ia menyatakan bahwa akses terhadap modal, peningkatan keterampilan, dan perluasan pasar merupakan aspek yang harus diperhatikan agar usaha rakyat dapat berkembang dan bersaing secara efektif. Ibas menyampaikan hal ini saat menghadiri acara UMKM dan Batik di Alun-Alun Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Minggu (25/10/2026).

Menurut Ibas, UMKM memerlukan dukungan yang nyata agar pelaku usaha tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas produk dan menjangkau lebih banyak konsumen. “Negara harus hadir. Negara harus sayang rakyat,” tegasnya. Ia menilai bahwa penguatan UMKM harus dilakukan melalui pelatihan, kemudahan akses pembiayaan, dan pembukaan peluang pemasaran yang lebih luas. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing usaha serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Pentingnya Budaya dan Seni Lokal

Selain fokus pada usaha, Ibas juga menyoroti potensi batik dan seni budaya lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif di Kendal. Ia berpendapat bahwa warisan budaya dapat memberikan nilai tambah ekonomi jika dikembangkan bersamaan dengan sektor perdagangan, pariwisata, dan usaha masyarakat. “Batiknya juga terus dilestarikan yang menjadi kebanggaan nenek moyang dan masyarakat di desa-desa, yang terus dikembangkan untuk menjadi satu budaya kebanggaan Indonesia,” ungkap Ibas.

Ibas juga memberikan apresiasi terhadap peran generasi muda dalam melestarikan batik. Ia menekankan bahwa regenerasi perajin sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik dan memastikan bahwa produk lokal tetap relevan dengan perubahan tren serta persaingan pasar. Kendal memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi masyarakat, mulai dari pariwisata bahari, wisata religi, kerajinan batik, hingga seni pertunjukan tradisional. Menurut Ibas, pengembangan potensi ini harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pelaku UMKM dan generasi muda.

Warisan Budaya dan Identitas Lokal

Tokoh agama dan pemerhati sejarah serta budaya Kaliwungu, Gus Muis, menambahkan bahwa batik yang dihasilkan di daerah tersebut memiliki hubungan erat dengan sejarah dan identitas masyarakat setempat. Ia menjelaskan bahwa Kaliwungu merupakan tempat pertemuan antara nilai-nilai Islam dan kebudayaan Jawa. “Jadi batik Kaliwungu itu sejarah peradaban masyarakat Kaliwungu, kebanggaan,” jelas Gus Muis.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman dan industrialisasi agar identitas lokal tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Artikel Terkait