🔴 Breaking
Prabowo Mendorong Percepatan Riset Vaksin Malaria di BRIN Rupiah Mencapai Rp 18.184 per Dolar AS, Masyarakat Berbondong-bondong Menukarkan Valas Bill Gates Prediksi AI dan Robot Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia Krisis Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, Kasus Melampaui 10 Ribu dan Hampir 5 Ribu Korban Jiwa --- Kehidupan Pedagang di Tengah Aksi Demonstrasi di Monas --- Mengenal Heatstroke: Bahaya yang Mengintai Pelari di Cuaca Panas Rektor UIN Saizu Lantik Lima Pejabat Baru, Soroti Pentingnya Kolaborasi dan Penguatan Usulan Koperasi Desa untuk Penyaluran Gaji Pensiunan ASN, Taspen Menyatakan Sikap Dua Studio Game Besar Umumkan PHK Massal di Akhir Oktober 2026 Peringatan Direktur Utama BPJS Kesehatan Terkait Penipuan di Rumah Sakit, Fokus pada Kasus Diare di Gresik Prabowo Mendorong Percepatan Riset Vaksin Malaria di BRIN Rupiah Mencapai Rp 18.184 per Dolar AS, Masyarakat Berbondong-bondong Menukarkan Valas Bill Gates Prediksi AI dan Robot Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia Krisis Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, Kasus Melampaui 10 Ribu dan Hampir 5 Ribu Korban Jiwa --- Kehidupan Pedagang di Tengah Aksi Demonstrasi di Monas --- Mengenal Heatstroke: Bahaya yang Mengintai Pelari di Cuaca Panas Rektor UIN Saizu Lantik Lima Pejabat Baru, Soroti Pentingnya Kolaborasi dan Penguatan Usulan Koperasi Desa untuk Penyaluran Gaji Pensiunan ASN, Taspen Menyatakan Sikap Dua Studio Game Besar Umumkan PHK Massal di Akhir Oktober 2026 Peringatan Direktur Utama BPJS Kesehatan Terkait Penipuan di Rumah Sakit, Fokus pada Kasus Diare di Gresik
Ekonomi

Rupiah Mencapai Rp 18.184 per Dolar AS, Masyarakat Berbondong-bondong Menukarkan Valas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan signifikan, mencapai Rp 18.184 pada Rabu, 28 Oktober 2026, mendorong masyarakat untuk menukarkan uang valas mereka.

Bima Sakti

Penulis

28 October 2026
5 kali dibaca

Rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 28 Oktober 2026. Nilai tukar rupiah tercatat mencapai Rp 18.184 per dolar AS, sehingga mendorong sejumlah masyarakat yang memiliki uang tunai valuta asing (valas) untuk segera menukarkannya.

Salah satu individu yang melakukan penukaran adalah Ibra, yang membawa tiga lembar uang pecahan US$ 100 yang telah disimpannya selama beberapa bulan. Ia terlihat di depan sebuah tempat penukaran uang di Blok M, Jakarta Selatan, dan memutuskan untuk menukarkan simpanannya karena kurs rupiah terhadap dolar AS yang meningkat. "Saya langsung tukar. Karena harganya lagi bagus, ditambah emang lagi butuh juga. Dapat di angka Rp 17.900-an sih tadi," ungkap Ibra.

Perbedaan Kurs di Money Changer

Penelusuran menunjukkan bahwa terdapat variasi kurs di beberapa money changer. DolarAsia menerapkan kurs beli Rp 18.050 dan jual Rp 18.300 per dolar AS, sementara Smart Deal menawarkan kurs beli Rp 18.165 dan jual Rp 18.290. Di tempat lain, Emerald Money Changer menerapkan kurs beli Rp 17.950 dan jual Rp 18.280.

Tak hanya Ibra, Aya, seorang pegawai swasta dari Pamulang, juga memutuskan untuk menukarkan sebagian simpanan dolar AS yang dimilikinya. Ia membawa empat lembar uang US$ 100 untuk ditukarkan di money changer. "Say tukar sekarang karena gak kepikiran aja kalau dolar tembus ke Rp 19.000, jadi mending sekarang," ujarnya dengan santai.

Pilihan Berbeda dalam Menyimpan Valas

Di sisi lain, Hudi memilih untuk tidak menukarkan valas yang dimilikinya meskipun nilai tukar rupiah sedang melemah. Ia memutuskan untuk menyimpan dolar sebagai investasi jangka panjang berdasarkan kesepakatan dengan pasangannya. "Meskipun saat ini nilai tukar rupiah sedang di angka yang tinggi, yakni Rp 18.100 per dolar AS, saya mau menjadikan dolar sebagai investasi jangka panjang," jelas Hudi, yang menyimpan dolar AS dan dolar Singapura.

Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang kini mencapai Rp 18.174. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pergerakan rupiah dan mata uang kawasan lainnya dipengaruhi oleh ketidakpastian yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. "Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin.

Sentimen risk-off yang memburuk juga berkontribusi pada penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang, di tengah peningkatan yield obligasi. Di dalam negeri, kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menambah tekanan terhadap aliran dana. Selain itu, kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menjadi faktor yang menambah tekanan.

Meski demikian, Erwin menekankan bahwa secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan lainnya. Dalam sebulan terakhir, rupiah melemah sebesar 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tetap terjaga pada angka US$ 146,3 miliar per akhir September 2026. "BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," tambahnya.

Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Artikel Terkait