🔴 Breaking
Ekonomi

IHSG Terjun Bebas 11%, Said Abdullah Soroti Sikap MSCI terhadap BEI

IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 11% setelah pengumuman dari MSCI, yang memicu kritik dari Said Abdullah terkait dampaknya terhadap pasar modal Indonesia.

Sekar Wangi

Penulis

18 October 2026
26 kali dibaca
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah. (istimewa)
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah. (istimewa)

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57% terjadi setelah pengumuman evaluasi oleh MSCI mengenai potensi pengkategorian Bursa Efek Indonesia (BEI) ke dalam kategori standalone. Pada tanggal 16 Oktober 2026, sejumlah saham besar dan bluechip mengalami penurunan yang signifikan, dengan beberapa di antaranya terjun hingga 14% hingga 15%.

Kritik terhadap MSCI

Said Abdullah, yang menjabat sebagai Ketua Badan Anggaran DPR, menilai bahwa penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia tidak adil. Ia mengingatkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dan KSEI telah melakukan berbagai langkah perbaikan secara bertahap, termasuk penyesuaian free float hingga 25%, peningkatan pengawasan, serta penjatuhan sanksi kepada pelanggar aturan pasar.

Perbedaan penilaian terlihat jelas ketika FTSE Russell tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market bersama 13 negara lainnya, seperti China, India, dan Arab Saudi. FTSE Russell memberikan apresiasi terhadap upaya perbaikan tata kelola dan transparansi yang dilakukan di BEI.

Respon Investor dan Stabilitas Pasar

Said Abdullah menekankan bahwa meskipun masukan dari MSCI perlu diterima sebagai bahan evaluasi, penting untuk bersikap kritis terhadap lembaga pemeringkat tersebut. Ia menyatakan, "MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi, yang memiliki otoritas tunggal, dan paling sempurna. Karena itu, kita juga boleh kritis terhadap mereka." Ia percaya bahwa hubungan yang saling kritis akan menguntungkan kedua belah pihak.

Setelah pengumuman MSCI, IHSG mengalami penurunan yang tajam, namun investor asing justru memanfaatkan situasi tersebut dengan melakukan aksi beli (net buy) mencapai Rp9,18 triliun. Hal ini dianggap memberikan keuntungan bagi hedge fund. Said Abdullah mengingatkan bahwa upaya perbaikan pasar modal seharusnya tidak merusak stabilitas pasar itu sendiri, dengan menyatakan, "Memperbaiki pasar modal Indonesia laksana mencari jarum di persawahan dengan padi yang menguning. Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak injak saat mencari jarum."

Artikel Terkait