🔴 Breaking
Ekonomi

Kekacauan di Pasar Modal: Penurunan IHSG dan Dampak Akuisisi BYAN

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 14,91 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, dipicu oleh aksi jual besar-besaran dan ancaman penurunan stat...

Fehardian Rahaja

Penulis

18 October 2026
34 kali dibaca
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

IHSG mengalami penurunan drastis sebesar 14,91 persen pada penutupan perdagangan pada Jumat, 16 Oktober 2026, berakhir di level 5.185,11. Penurunan ini disebabkan oleh aksi jual yang masif di bursa domestik, yang dipicu oleh dua faktor utama: ancaman penurunan status bursa oleh MSCI menjadi Standalone Market dan dinamika akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh Haji Isam.

Ancaman Penurunan Status oleh MSCI

Penyebab utama kejatuhan indeks terjadi setelah MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober 2026 untuk meninjau status indeks Indonesia. MSCI mempertimbangkan untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang akan menyamakan Indonesia dengan negara-negara seperti Zimbabwe dan Argentina. Tiga alasan utama yang diangkat MSCI dalam peninjauan ini adalah kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham, tingginya konsentrasi kepemilikan saham oleh pihak tertentu, dan indikasi praktik perdagangan terkoordinasi. Meskipun pemerintah telah melakukan beberapa perbaikan, MSCI menilai belum ada kemajuan yang signifikan. Periode konsultasi ini akan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir yang dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027. Ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran akan pelepasan portofolio oleh dana pasif global.

Transaksi Besar Haji Isam dan Dampaknya

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Haji Isam, pengusaha asal Kalimantan Selatan, yang menyelesaikan akuisisi sekitar 10,08 miliar saham atau setara 30,25 persen dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan nilai transaksi sekitar Rp26 triliun. Untuk mendanai akuisisi ini, Haji Isam menggadaikan saham dari PT Jhonlin Agro Raya Tbk dan PT Pradiksi Gunatama Tbk kepada PT Bank Mandiri untuk mendapatkan fasilitas kredit. Rumor mengenai rencana Haji Isam untuk membeli sekitar 62,2 persen saham BYAN semakin memperkeruh situasi, terutama setelah pertemuannya dengan Low Tuck Kwong di Kalimantan Timur pada 15 Agustus.

Pasca-akuisisi, beberapa pemegang saham utama BYAN, termasuk Low Tuck Kwong, Elaine Low, dan Lim Chai Hock, juga melepaskan sebagian saham mereka meskipun Low Tuck Kwong tetap memegang kendali dengan porsi 8,3 persen. Langkah ini mendapat kritik dari Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, yang menyoroti kurangnya transparansi dalam struktur pembiayaan dan perlindungan bagi investor minoritas yang dapat mempengaruhi persepsi investor asing. Di pasar sekunder, saham BYAN mengalami penurunan tajam hingga mencapai batas Auto Reject Bawah (ARB) di level Rp9.450 per lembar, dengan penurunan ini juga melibatkan saham-saham besar lainnya seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI yang menjadi penyebab utama tekanan pada indeks.

Dengan situasi yang semakin memburuk, pasar modal Indonesia mencatatkan salah satu periode perdagangan terburuk dalam sejarahnya.

Artikel Terkait