🔴 Breaking
Ekonomi

Kisah Investor Ritel di Tengah Penurunan Bursa: Dari Kerugian Hingga Strategi Bertahan

Meskipun mengalami penurunan signifikan, beberapa investor ritel tetap optimis dan memilih untuk bertahan di pasar saham. Mereka berbagi pengalaman dan strategi menghadapi fluktuasi yang terjadi.

Bima Sakti

Penulis

19 October 2026
34 kali dibaca
Ilustrasi pasar saham global. (c) iwatchwater/Depositphotos.com
Ilustrasi pasar saham global. (c) iwatchwater/Depositphotos.com

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak selalu membuat investor ritel menjauh dari pasar modal. Terkadang, situasi ini justru membuka peluang baru di dunia saham. Pada perdagangan Jumat lalu, layar ponsel pintar Adi, seorang pegawai swasta berusia 40 tahun yang bekerja di Meruya Utara, Jakarta Barat, menunjukkan warna merah yang mencolok. Ia hanya bisa menghela napas panjang saat melihat portofolio investasinya tergerus hingga 52 persen. Momen ketika Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian perdagangan sementara (trading halt) menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Adi. "Pasrah," ujarnya singkat saat mengenang saat-saat ketika IHSG mengalami penurunan tajam.

Adi mengungkapkan bahwa saham-saham dalam portofolionya bukanlah saham spekulatif tanpa dasar. Ia telah menginvestasikan uangnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi pilar bursa, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Selain itu, ia juga memiliki saham di sektor komoditas dan energi seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Namun, ketika tekanan pasar melanda, bahkan saham-saham unggulan pun tidak terhindar dari dampak negatif. Kerugian yang belum direalisasikan (floating loss) pun meningkat dalam waktu singkat. Meski demikian, Adi memilih untuk tidak panik dan tidak menjual sahamnya (cut loss).

Menanti Pemulihan Pasar

Harapan untuk pemulihan IHSG pada awal pekan ini, Senin (19/10/2026), belum sepenuhnya terwujud. IHSG kembali mengalami penurunan, mengikis sisa keuntungan di portofolio banyak investor ritel. Meskipun demikian, Adi tampak lebih tenang menghadapi situasi pasar yang bergejolak. Strategi yang diambilnya saat ini cukup sederhana: membiarkan asetnya dan menunggu hingga kondisi pasar stabil. "Diemin dulu saja. Saya jarang cut loss," tuturnya dengan nada santai.

Sikap tenang Adi dalam menghadapi fluktuasi harga saham bukan tanpa alasan. Ia memastikan bahwa dana yang diinvestasikan di pasar modal adalah "uang dingin," yang tidak dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat. Keleluasaan finansial ini memberinya ruang untuk bertahan di tengah tekanan pasar. "Soalnya bukan duit panas. Kalaupun sampai tahun depan baru hijau lagi, ya baru aku lepas," ujarnya sambil tertawa. Bagi Adi, kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi siklus pasar saham yang penuh dengan naik-turun. Pengalaman yang panjang mengajarkannya bahwa pasar modal selalu memiliki dinamika untuk kembali ke nilai intrinsiknya. "Minggu lalu saya baru saja jual saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), itu setelah merah bertahun-tahun," tambahnya.

Kerugian dan Harapan Baru

Pengalaman serupa juga dialami oleh Prilly, seorang pekerja swasta berusia 40 tahun di Jakarta Selatan, yang mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 70 juta setelah nilai investasinya merosot. Bagi Prilly, kerugian tersebut bukanlah hal sepele. Uang yang telah ia investasikan di pasar modal sejak 2017 kini menjadi pengingat bahwa investasi saham tidak selalu berakhir manis. Di balik peluang untuk meraih keuntungan, risiko kehilangan modal selalu mengintai setiap keputusan yang diambil. Meskipun demikian, kerugian puluhan juta rupiah itu tidak membuatnya menyerah. Prilly masih ingin berinvestasi di pasar saham, tetapi dengan pendekatan yang lebih hati-hati. "Jangan bilang main saham, invest saham," ujarnya, menegaskan bahwa aktivitas yang dilakukannya bukan sekadar permainan untuk mendapatkan keuntungan sesaat.

Selama bertahun-tahun berinvestasi, Prilly mengaku banyak mengalokasikan dananya ke saham-saham perbankan. Pilihan ini menjadi bagian dari perjalanan investasinya sejak mengenal pasar modal pada 2017. Namun, situasi pasar yang tidak stabil memaksanya untuk mengevaluasi langkah yang diambil. Setelah saham-sahamnya terdampak isu MSCI dan perdagangan mengalami penghentian sementara, Prilly memilih untuk menahan diri dan tidak terburu-buru melakukan pembelian saham baru. Baginya, menunggu kondisi pasar lebih jelas adalah pilihan yang lebih bijaksana daripada mengambil risiko tambahan di tengah ketidakpastian.

Investor ritel lainnya, Fajar, yang telah berinvestasi di pasar saham sejak 2011 dengan modal awal Rp 10 juta, juga berbagi kisahnya. Ia mulai membeli sejumlah saham, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Namun, perjalanan investasinya tidak selalu mulus. Sejak membeli saham BUMI, ia sudah merasakan kerugian, dan pengalaman serupa terjadi pada saham FREN yang hingga kini masih ada dalam portofolionya, meskipun perusahaan tersebut telah menjalani proses merger dengan XL Axiata. "FREN juga sampai merger sama XLSmart, saham jadi enggak sampai satu lot. Sampai sekarang masih pegang," ujarnya.

Kondisi ini membuat nilai investasinya tertekan. Meski demikian, ia membedakan antara potensi kerugian dan kerugian yang benar-benar direalisasikan. Saat ini, ia memperkirakan potensi kerugiannya mencapai puluhan juta rupiah. Namun, karena saham-saham tersebut masih dipegang, kerugian itu belum sepenuhnya direalisasikan melalui penjualan. "Investor ritel ya duit terbatas. Rugi real baru puluhan juta itu karena pakai duit sekuritas," katanya. Menurutnya, kesabaran sangat penting dalam menghadapi saham yang harganya turun, meskipun tidak selalu mudah dilakukan, terutama ketika dana yang digunakan bukan sepenuhnya milik sendiri. Meskipun mengalami kerugian, ia mengaku tidak kapok berinvestasi di pasar saham, karena masih melihat peluang dalam investasi jangka panjang, termasuk potensi mendapatkan dividen dari perusahaan yang membagikannya. "Tidak ada kapok. Kalau untuk jangka panjang tidak, karena pasti dapat dividen," ujarnya.

Dino, seorang investor ritel berusia 35 tahun, menjadi salah satu yang mencoba memanfaatkan momentum penurunan IHSG. Setelah beberapa bulan tidak aktif bertransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI), ia kembali membeli saham ketika melihat harga-harga mulai murah. Namun, kali ini Dino tidak berniat menahan saham terlalu lama. Ia memilih strategi scalping, yaitu membeli dan menjual saham dalam waktu relatif singkat untuk meraih keuntungan dari pergerakan harga. "Gue udah berapa bulan enggak main IHSG. Baru hari ini main lagi karena trennya lagi murah aja. Itu pun cuma main scalping-scalping doang," ujarnya.

Bagi Dino, koreksi harga menjadi kesempatan untuk mencoba kembali peruntungan di pasar saham. Meskipun demikian, ia memilih transaksi jangka pendek ketimbang mengambil posisi investasi dengan durasi lebih panjang di tengah kondisi pasar yang belum stabil. Ia mengaku masih sempat memperoleh keuntungan ketika harga saham yang diperdagangkan sempat menguat menjelang penutupan pasar. Dino menduga bahwa tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu faktor yang membuat penguatan IHSG tertahan. Menurut pengamatannya, meskipun ada peluang kenaikan setelah koreksi, indeks masih berpotensi melemah sebelum kembali menguat. "Kayaknya asing masih pada cabut, jadi IHSG melemah dulu, naiknya tipis-tipis," ujarnya.

Artikel Terkait