Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026. Para ekonom menilai bahwa penguatan ini dipengaruhi oleh penilaian investor terhadap pernyataan dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sinyal dovish.
Rupiah dibuka naik sebesar 14 poin atau 0,08% menjadi 18.123 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level 18.137 per dolar AS. "Fed tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai potensi kenaikan suku bunga pada Desember 2026, sehingga investor menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," jelas Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.
Keputusan The Fed dan Dampaknya
Dalam pertemuan FOMC, The Federal Reserve mempertahankan suku bunga kebijakan di kisaran 3,75-4,00%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Selain itu, The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang, menekankan bahwa keputusan kebijakan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan bertujuan untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis indikator inflasi utama yang menjadi acuan bagi Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, yang masing-masing mencatatkan kenaikan menjadi 3,6% year on year (yoy) dan 3,1% yoy pada September 2026, sesuai dengan ekspektasi konsensus. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III 2026 meningkat menjadi 3,4% quarter over quarter (qoq), lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang hanya 3,2% qoq.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Berdasarkan sentimen yang ada, rupiah diprediksi akan bergerak dalam kisaran Rp 18.075 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di kisaran 18.100 pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Analis mengamati bahwa koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh pernyataan kebijakan dari The Fed dan perkembangan ekonomi setelah agenda FOMC.
Rupiah ditutup turun 47 poin atau 0,26% menjadi 18.137 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.184 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengalami pelemahan ke level 18.128 per dolar AS dari sebelumnya 18.183 per dolar AS.
"The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 - 4,00 persen pada 28 Oktober waktu AS. Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS," ungkap Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
Dalam keputusan FOMC, hasil pemungutan suara menunjukkan 10 suara setuju dan 2 suara menolak, yang diambil untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yaitu mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal dan menjaga stabilitas harga. Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga memperingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, berada di atas target 2% yang telah ditetapkan selama hampir enam tahun.
Ia menegaskan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi memulihkan stabilitas harga. "Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri, serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS yang dijadwalkan malam ini," tutup Amru.