Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY telah meluncurkan program Hutan Lestari Wanaboga Nangka di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini bertujuan untuk mengubah lahan kering yang ada di kawasan tersebut menjadi hutan pangan yang produktif, dengan luas mencapai 87 hektare di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Melalui inisiatif ini, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Dalam pengembangan kawasan hutan pangan ini, penanaman pohon nangka menjadi fokus utama, karena dapat menyediakan bahan baku nangka muda atau gori yang dibutuhkan oleh industri kuliner khas Yogyakarta, seperti gudeg. Namun, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan lahan karst yang cenderung kering pada musim kemarau memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada. Untuk itu, program ini mengimplementasikan sistem tumpangsari dan pengairan berbasis energi bersih untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Keberlanjutan Pertanian Melalui Pendekatan Inovatif
Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, menekankan bahwa keterlibatan Pertamina dalam program ini merupakan wujud kepedulian dunia usaha terhadap ketahanan pangan nasional, sambil tetap menjaga ketahanan energi. "Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ungkap Nanik.
Pengembangan kawasan hutan pangan ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga direncanakan untuk menjadi lumbung pangan serta sumber bahan baku kuliner dan kawasan eduwisata di masa depan. Pengelolaan lahan ini melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang terdiri dari sekitar 400 petani lokal. Ngatimin, perwakilan kelompok tani, menyatakan apresiasi atas dukungan yang diberikan melalui program ini dan berharap pendampingan dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat terus berlanjut.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Berkelanjutan
Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), menyampaikan bahwa Pertamina berkomitmen untuk memastikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat. "Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten," jelas Arya.
Dengan menggunakan pengairan berbasis energi bersih, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjaga kelestarian kawasan hutan serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. M. Erry Sugiharto, Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), menambahkan bahwa pengembangan produk pangan yang memanfaatkan potensi lokal dapat menjadi bagian dari hilirisasi yang lebih luas. "Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan," tutup Erry.