Jakarta - Untuk meningkatkan kompetensi dokter dalam estetika medis, diperlukan kombinasi antara pemahaman teori dan keterampilan praktis. Penguasaan teknik tindakan menjadi elemen penting dalam pelayanan estetika, sementara pemahaman tentang dasar biologis, karakteristik pasien, dan pertimbangan klinis juga berperan dalam menentukan rencana perawatan yang tepat. Dalam rangka mendukung hal ini, Akademi Dermaesthetics memperkenalkan program pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran teori dan praktik secara sistematis.
Direktur Akademi Dermaesthetics, dr. Stiven Eli, mengungkapkan bahwa pendekatan pendidikan ini merupakan bagian dari upaya akademi untuk memberikan dokter dengan kompetensi estetika yang lebih komprehensif. Akademi ini resmi diluncurkan pada 21 September 2026 di Bekasi Central Business District (BCBD) dengan metode pembelajaran yang menggabungkan pemahaman ilmiah dan penerapannya dalam praktik klinis.
Metode Pembelajaran yang Terintegrasi
“Dokter estetika perlu memahami dasar keilmuan di balik setiap tindakan, sekaligus mengembangkan keterampilan untuk menerapkannya dalam praktik. Keseimbangan keduanya membantu dokter menilai kebutuhan pasien. Setelah itu, dokter dapat mempertimbangkan pilihan perawatan dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing individu,” jelas dr. Stiven dalam keterangan tertulisnya.
Pendekatan ini dianggap relevan dengan perkembangan industri estetika medis di Indonesia. Menurut Asian Insiders, pasar estetika medis di Indonesia diprediksi akan tumbuh setidaknya 10% setiap tahun dalam beberapa tahun mendatang. Tren ini membuka peluang karier bagi dokter di bidang estetika medis dan meningkatkan kebutuhan akan pendidikan yang memberikan pemahaman teori dan keterampilan klinis secara seimbang.
Kurikulum dan Pelatihan Praktis
Berbagai program pelatihan estetika yang ada saat ini sering kali menawarkan pembelajaran singkat dengan fokus pada teknik atau penggunaan produk tertentu, namun pendekatan tersebut dinilai belum memadai. Oleh karena itu, Akademi Dermaesthetics menawarkan program intensif selama tiga bulan atau long course yang dirancang untuk memperkuat pemahaman biologis dan membangun insting klinis peserta.
Kurikulum akademi ini terdiri dari 41 modul yang mencakup teori dasar, prosedur klinis, aspek hukum, hingga nutrisi. Materi ini dirancang untuk membekali dokter dengan pemahaman tentang berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam tindakan estetika, mulai dari kondisi pasien hingga perencanaan perawatan. Untuk melengkapi materi teori, akademi menerapkan metode pembelajaran yang mencakup praktik langsung (hands-on learning), demonstrasi, dan diskusi klinis.
Peserta akan mempelajari tahapan asesmen pasien, penyusunan rencana perawatan, teknik tindakan, serta pertimbangan karakteristik wajah setiap individu. Dengan pendekatan ini, peserta dapat mengaitkan pengetahuan teoretis dengan penerapannya dalam situasi klinis. “Teori memberikan dasar bagi dokter untuk memahami mekanisme biologis dan alasan klinis suatu prosedur, sedangkan latihan praktik membantu mengembangkan keterampilan dalam penerapannya. Karena itu, proses pembelajaran perlu menghubungkan keduanya. Dari situ, dokter dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang kuat,” tambah dr. Stiven.
Akademi ini juga mengintegrasikan pengetahuan, keahlian, teknologi, dan pengalaman praktik dalam satu ekosistem pembelajaran. Pendekatan ini mendorong peserta untuk mempelajari perkembangan teknologi estetika sekaligus memahami prinsip ilmiah yang mendasari penggunaannya. Menurut dr. Stiven, kemampuan untuk mengikuti tren harus disertai dengan pola pikir analitis agar dokter dapat mempertimbangkan relevansi suatu metode berdasarkan kebutuhan pasien.
“Dokter perlu memiliki pemahaman mendalam, keterampilan praktik yang terarah, dan kemampuan berpikir analitis. Ketiganya menjadi fondasi penting agar kompetensi terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi estetika,” pungkasnya. Melalui kurikulum yang terstruktur dan pembelajaran yang menggabungkan teori dengan praktik, Akademi Dermaesthetics berkomitmen untuk mendukung pengembangan kompetensi dokter estetika agar sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan dinamika industri estetika medis.