🔴 Breaking
Teknologi

Strategi Efektif Menggunakan AI Menurut Penelitian Microsoft

Banyak pengguna AI yang hanya memanfaatkan teknologi ini secara dangkal, padahal ada cara yang lebih efektif. Penelitian Microsoft mengungkapkan perbedaan signifikan antara pengguna AI biasa dan yang...

Aditya Surya

Penulis

02 July 2026
6 kali dibaca
Strategi Efektif Menggunakan AI Menurut Penelitian Microsoft
Sumber gambar: tekno.kompas.com

KOMPAS.com – Banyak individu menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan cara yang mirip seperti menggunakan mesin pencari Google, yaitu dengan mengajukan pertanyaan dan menerima jawaban. Namun, pendekatan ini hanya mencakup permukaan dari potensi sebenarnya yang dimiliki AI. Pada bulan Mei lalu, Microsoft merilis laporan tahunan Work Trend Index 2026, yang melibatkan survei terhadap 20.000 pekerja pengguna AI dari sepuluh negara, termasuk Indonesia, serta analisis triliunan sinyal dari Microsoft 365. Salah satu temuan utama dari laporan ini menunjukkan adanya pola yang membedakan antara pekerja yang menggunakan AI secara biasa dan mereka yang mampu memanfaatkan AI dengan sangat efektif, yang disebut Microsoft sebagai Frontier Professional. Meskipun kelompok ini hanya mencakup 16 persen dari total responden, 80 persen di antaranya mampu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin mereka lakukan sendiri.

Empat Cara Berinteraksi dengan AI

Microsoft mengidentifikasi empat cara berbeda dalam interaksi pekerja dengan AI saat ini, berdasarkan dua dimensi. Dimensi pertama menggambarkan tingkat keterlibatan manusia dalam pekerjaan, dari pengawasan langsung hingga sekadar memantau. Dimensi kedua menunjukkan bagaimana AI digunakan, mulai dari sebagai asisten hingga sebagai rekan kerja. Kombinasi dari kedua dimensi ini menghasilkan empat mode kerja: mode delegasi, mode kolaborasi, mode bertanya, dan mode eksplorasi. Perbedaan antara Frontier Professional dan pengguna AI biasa bukan terletak pada mode yang mereka pilih, melainkan pada kemampuan mereka untuk mengenali mode yang tepat untuk setiap tugas. "Eksekusi rutin, riset, dan sintesis didelegasikan. Saat AI mengerjakan lebih banyak pekerjaan, manusia tetap terlibat dengan menetapkan arah dan bertanggung jawab atas bagaimana hasilnya dipakai," tulis Microsoft.

Perlakuan Terhadap Hasil AI

Salah satu prinsip penting yang muncul dari laporan ini adalah cara pekerja memperlakukan hasil yang dihasilkan oleh AI. Sebanyak 86 persen pengguna AI yang disurvei menganggap hasil AI sebagai titik awal, bukan sebagai jawaban akhir. Mereka menyatakan tetap "bertanggung jawab atas pemikiran" yang mendasari pekerjaan tersebut. Microsoft menjelaskan bahwa peran pekerja kini beralih dari sekadar penghasil jawaban menjadi evaluasi, penyempurna, dan pemilik dari jawaban itu sendiri.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa Frontier Professional lebih sering sengaja mengerjakan tugas tanpa bantuan AI dibandingkan dengan pengguna AI biasa. Sekitar 43 persen dari kelompok ini terkadang memilih untuk tidak menggunakan AI agar keterampilan mereka tetap terasah, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 30 persen pengguna AI biasa. "Frontier Professional menolak untuk menyerahkan pemikiran mereka. Mereka menyadari bahwa keberhasilan jangka panjang memerlukan pengembangan keterampilan manusia dan tidak membiarkannya menurun," tulis laporan tersebut.

Selain itu, 53 persen dari Frontier Professional juga memilih untuk berhenti sejenak sebelum memulai pekerjaan, mempertimbangkan tugas mana yang sebaiknya dikerjakan oleh AI dan mana yang harus dilakukan sendiri. Bandingkan dengan pengguna AI biasa, yang hanya 33 persen melakukan hal yang sama. Selisih 20 persen ini mungkin terlihat kecil, tetapi mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara berpikir. Pengguna AI biasa cenderung langsung menyerahkan tugas kepada AI tanpa pertimbangan, sementara Frontier Professional lebih selektif.

Keterampilan Manusia yang Semakin Penting

Dari laporan Microsoft, terungkap bahwa semakin banyak pekerjaan yang diambil alih oleh AI, dua keterampilan manusia justru semakin dihargai. Pengguna AI yang disurvei menyebutkan kontrol kualitas terhadap hasil AI sebagai keterampilan paling penting, dengan 50 persen memilihnya. Keterampilan kedua yang dianggap penting adalah pemikiran kritis untuk menganalisis informasi secara objektif, yang dipilih oleh 46 persen responden. Frontier Professional menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi mengenai pentingnya penilaian manusia saat bekerja dengan AI, dengan nilai lebih tinggi dalam hampir semua ukuran survei terkait pemikiran kritis dan kontrol kualitas.

Microsoft juga menganalisis lebih dari 100.000 percakapan pengguna Microsoft 365 Copilot dan menemukan bahwa 49 persen dari percakapan tersebut digunakan untuk mendukung pekerjaan kognitif, yang mencakup analisis informasi, pemecahan masalah, evaluasi, dan berpikir kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat untuk membuat dokumen atau menulis email, tetapi telah menjadi mitra berpikir dalam hampir separuh tugas profesional.

Di akhir laporan, Microsoft menyimpulkan bahwa pengguna AI yang paling efektif di masa depan bukanlah mereka yang hanya berusaha melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat, tetapi mereka yang mampu mendefinisikan ulang nilai mereka berdasarkan apa yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Ini termasuk menetapkan tujuan yang jelas, mendesain cara kerja, serta menerapkan penilaian dan selera pribadi untuk menghasilkan hasil yang lebih baik. "Pertanyaannya beralih dari 'tugas apa yang menentukan pekerjaan saya?' menjadi 'hasil apa yang sekarang dapat saya capai?'" tulis Microsoft. Sebanyak 66 persen pengguna AI yang disurvei mengaku bahwa AI telah memungkinkan mereka untuk menghabiskan lebih banyak waktu pada pekerjaan yang bernilai tinggi, sementara 58 persen menyatakan mereka mampu menyelesaikan pekerjaan yang setahun lalu tidak mungkin mereka lakukan.

Artikel Terkait