Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk mendorong hilirisasi industri agro guna meningkatkan nilai tambah dari komoditas domestik dan memperkuat kinerja ekspor. Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku serta dukungan dari sektor hulu yang masih belum optimal.
CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, mengungkapkan bahwa pengembangan industri agro harus disertai dengan penguatan sektor hulu agar industri pengolahan dapat berfungsi secara berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan masalah pasokan bahan baku sebelum pemerintah dapat melaksanakan hilirisasi secara lebih luas. "Sehingga ini harus jadi perhatian, karena kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, maka keberhasilan pengembangannya akan sulit," ujarnya di Jakarta.
Perkembangan Ekspor dan Tantangan di Sektor Kopi
Anton juga menegaskan bahwa penguatan hilirisasi tidak hanya berhubungan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga sejalan dengan program prioritas nasional yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Oleh karena itu, ketersediaan bahan baku dan dukungan dari dalam negeri harus menjadi fokus agar industri pengolahan dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap perekonomian. "Jadi satu hal yang juga penting kita pikirkan terus, tentu dilakukan dari segi bagaimana supaya agar tetap menjaga industri yang utuh," tambahnya.
Tantangan serupa juga dihadapi oleh pelaku industri kopi yang berusaha mengembangkan produk olahan untuk pasar ekspor. Ketua Departemen Specialty dan Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, menjelaskan bahwa industri masih mengalami kesulitan dalam memenuhi formulasi atau pencampuran produk olahan yang diperlukan untuk ekspor. Ia menambahkan bahwa beberapa proses produksi memerlukan bahan baku tertentu, termasuk kopi impor untuk memenuhi kebutuhan pencampuran produk. "Campuran ini kan juga dibutuhkan kadang-kadang ada kopi yang dari impor dari luar negeri. Nah, ini yang kita sebagai industri itu ngalamin kesulitan," ungkap Moelyono.
Peningkatan Produktivitas dan Potensi Investasi
Selain masalah bahan baku, Moelyono juga menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas perkebunan lokal. Ia memberikan contoh bahwa produktivitas kopi robusta saat ini berkisar antara 1 ton hingga 1,2 ton per hektare, yang masih memiliki potensi untuk ditingkatkan menjadi 2 ton per hektare. Peningkatan produktivitas ini diharapkan dapat memperbesar hasil produksi serta meningkatkan potensi devisa dari industri kopi nasional. "Jadi sekarang kita konsentrasi bagaimana meningkatkan produktivitas dari kebun-kebun yang sudah ada. Itu saja, simpel. Pasti nilainya akan meningkat sangat besar," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulia Astuti, menyatakan bahwa hilirisasi industri agro dapat menjadi salah satu strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen pada tahun 2028. Sebagai negara agraris, Indonesia dipandang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengolahan komoditas pertanian dan perkebunan menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. "Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita," jelasnya.
Yulia menambahkan bahwa investasi dan kemudahan fasilitas penanaman modal merupakan faktor penting untuk mendorong hilirisasi agro yang berkelanjutan. "Pemerintah sudah banyak berusaha untuk memberikan fasilitas tersebut, namun kami pun tetap membuka apabila ada ruang-ruang perbaikan atau ada hal-hal yang perlu kita tambahkan," tuturnya.
Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa nilai ekspor nasional mencapai 25,30 miliar dolar AS pada April 2026, tumbuh 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.