🔴 Breaking
DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN
Kesehatan

--- Wabah Flu Burung di Peternakan Cerpelai AS Menjadi Ancaman Pandemi ---

--- Wabah flu burung yang berlangsung lebih dari dua bulan di peternakan cerpelai di Utah, Amerika Serikat, menjadi perhatian pakar yang khawatir akan potensi penularan kepada manusia. Tindakan pemeri...

Sekar Wangi

Penulis

30 October 2026
15 kali dibaca
Cerpelai. Foto: Getty Images/iStockphoto/Neznam
Cerpelai. Foto: Getty Images/iStockphoto/Neznam
---TITLEEXCERPT--- Wabah flu burung yang berlangsung lebih dari dua bulan di peternakan cerpelai di Utah, Amerika Serikat, menjadi perhatian pakar yang khawatir akan potensi penularan kepada manusia. Tindakan pemerintah setempat dinilai lamban dalam menangani situasi ini. ---CONTENT---

Wabah flu burung telah menyebar selama lebih dari dua bulan di peternakan cerpelai di Utah, Amerika Serikat. Para ahli mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi menjadi ancaman pandemi bagi manusia. Namun, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah setempat dinilai belum cukup untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

Investigasi yang dilakukan oleh ProPublica, yang dipublikasikan pada 26 Oktober 2026, mengungkap bahwa wabah ini terjadi di C&T Fenn Farms, sebuah peternakan yang memelihara ribuan cerpelai untuk diambil bulunya. Lokasi peternakan ini terletak sekitar satu jam perjalanan ke selatan Salt Lake City. Virus flu burung yang telah menginfeksi peternakan-peternakan di Amerika Serikat selama empat tahun terakhir diketahui telah menyebabkan dua kematian manusia akibat penularan dari hewan terinfeksi. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus ini dapat menular antarmanusia secara berkelanjutan.

Adaptasi Virus dan Risiko Penularan

Virus flu burung masih dalam tahap adaptasi untuk menginfeksi sel-sel burung, bukan sel-sel di saluran pernapasan manusia. Agar virus dapat menyebar di kalangan manusia, diperlukan perubahan yang memungkinkan virus tersebut menginfeksi saluran pernapasan dan menular melalui batuk atau bersin. Namun, para ahli memperingatkan bahwa kondisi ini dapat berubah akibat mutasi virus.

Salah satu skenario yang menjadi perhatian adalah munculnya hewan perantara yang rentan terhadap virus flu burung sekaligus virus yang dapat menginfeksi manusia. Dalam kondisi tertentu, mutasi dapat menghasilkan varian baru yang mampu menembus batas antarspesies. Cerpelai menjadi salah satu hewan yang dikhawatirkan berperan dalam proses ini, karena memiliki paru-paru dan saluran pernapasan dengan karakteristik seluler yang mirip dengan manusia. Selain itu, cerpelai juga diketahui dapat terinfeksi dan menularkan jenis virus influenza lainnya serta pernah terinfeksi COVID-19. Kondisi peternakan yang memiliki ribuan hewan hidup berdekatan berpotensi meningkatkan peluang virus menyebar dan mengalami perubahan genetik.

Respons Pemerintah yang Lamban

Menurut laporan ProPublica, otoritas pertanian Utah telah menyadari adanya kematian cerpelai akibat flu burung di C&T Fenn Farms sejak pertengahan Agustus. Informasi ini terungkap melalui dokumen komunikasi yang diperoleh berdasarkan undang-undang keterbukaan informasi publik negara bagian. Meskipun demikian, pemerintah setempat dinilai tidak segera mengambil tindakan untuk menghentikan wabah dan mengurangi risiko penularan kepada manusia.

Dokter hewan negara bagian Utah, Amanda Price, telah berupaya meminta bantuan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Namun, USDA menyatakan tidak memiliki kewenangan regulasi khusus untuk cerpelai maupun vaksin yang disetujui untuk hewan tersebut. Di sisi lain, pejabat dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) sempat berkomunikasi dengan beberapa pejabat kesehatan Utah yang terlibat dalam penanganan wabah. Namun, investigasi tersebut menunjukkan bahwa CDC tidak pernah berbicara langsung dengan Price, dan Price juga tidak menghubungi lembaga tersebut. Ketiadaan aturan federal khusus untuk menangani flu burung pada cerpelai memperburuk respons pemerintah.

Penanganan wabah flu burung pada unggas memiliki prosedur yang lebih jelas. Jika satu ayam dinyatakan positif terinfeksi, pemerintah AS mewajibkan pemusnahan seluruh unggas dalam satu kawanan untuk mencegah penyebaran ke peternakan lain dan melindungi kesehatan masyarakat. Peternak juga akan mendapatkan kompensasi atas kerugian tersebut. Namun, kebijakan yang sama tidak diterapkan pada peternakan cerpelai di Utah.

Price menyatakan bahwa wabah ini telah memberikan dampak besar bagi pemilik peternakan. Dia menyebutkan bahwa usaha tersebut merupakan hasil kerja keras pemilik selama bertahun-tahun. "Ini adalah hasil kerja seumur hidupnya yang kini dia lihat hancur," ungkap Price. Dia berharap masyarakat dapat memahami dampak kemanusiaan yang dialami pemilik peternakan akibat wabah ini.

Seruan untuk Memusnahkan Cerpelai

Sejumlah pakar influenza berpendapat bahwa pemerintah seharusnya segera memusnahkan cerpelai yang dipelihara di peternakan tersebut. Langkah ini dianggap penting untuk menghentikan penyebaran virus dan mengurangi peluang munculnya varian baru yang dapat menular ke manusia. Tom Peacock, seorang peneliti influenza unggas di Pirbright Institute, menekankan bahwa negara-negara lain yang menghadapi kasus H5N1 di peternakan hewan berbulu telah melakukan pemusnahan dengan cepat.

Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Utah tidak pernah secara serius mempertimbangkan untuk memusnahkan seluruh cerpelai. Perwakilan industri perdagangan bulu memperingatkan Price bahwa langkah tersebut dapat menghancurkan usaha peternakan dan berdampak pada industri secara keseluruhan, mengingat peternak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengembangkan garis keturunan cerpelai dengan karakteristik genetik tertentu. Price mengakui bahwa pilihan penanganan yang tersedia terbatas dan pejabat USDA tidak mendesaknya untuk memusnahkan cerpelai.

Pekerja Peternakan Tidak Dipantau

Selain tidak adanya langkah pemusnahan, investigasi juga menemukan bahwa pekerja peternakan tidak dipantau secara aktif untuk mendeteksi gejala flu burung. CDC memiliki panduan pemantauan bagi orang yang terpapar hewan terinfeksi, namun risiko paparan terhadap pekerja dinilai cukup besar. Cerpelai dapat bersin, melarikan diri dari kandang, hingga menyerang orang yang mendekatinya.

Seorang pekerja peternakan cerpelai di sekitar lokasi melaporkan bekas luka akibat serangan hewan tersebut. "Anda menjadi takut karena hewan sialan itu menggigit dan mencakar," ujarnya. Di negara bagian Washington, otoritas kesehatan sedang melacak kontak seseorang yang mengalami gejala setelah terpapar sapi perah yang terinfeksi flu burung. Pasien tersebut kini menjalani isolasi di rumah.

Sebelumnya, otoritas kesehatan masyarakat Utah juga melakukan pemantauan aktif terhadap orang-orang yang berisiko terpapar. Namun, langkah tersebut dihentikan setelah muncul keluhan dari rekan-rekan mereka di departemen pertanian bahwa para peternak merasa terganggu. Epidemiolog penyakit pernapasan di Departemen Kesehatan Utah, Pamela Gomez Pinedo, mengatakan bahwa pemantauan aktif membuat sejumlah peternakan enggan bekerja sama dengan petugas kesehatan.

Akibatnya, petugas kesehatan masyarakat kesulitan memperoleh informasi terperinci dari otoritas pertanian. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena keterlambatan dalam mendeteksi infeksi pada manusia dapat mempersempit kesempatan untuk mengendalikan penyebaran virus sejak dini. Para ahli menekankan bahwa penanganan wabah pada hewan perlu mempertimbangkan tidak hanya kerugian ekonomi peternak, tetapi juga risiko kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Artikel Terkait