🔴 Breaking
Kesehatan

Waktu Pemulihan Tubuh Setelah Terpapar Asap Kebakaran Hutan

Paparan asap dari kebakaran hutan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Waktu pemulihan tubuh setelah terpapar asap tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Sekar Wangi

Penulis

21 October 2026
4 kali dibaca
Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN
Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN

Jakarta - Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi pada mata hingga batuk dan kesulitan bernapas. Pertanyaannya, berapa lama tubuh memerlukan waktu untuk pulih setelah terpapar asap karhutla?

Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, seorang spesialis paru, menjelaskan bahwa durasi pemulihan sangat tergantung pada lama paparan, konsentrasi polutan yang terhirup, serta kondisi kesehatan individu. Menurutnya, seseorang yang terpapar polusi udara dalam waktu singkat, misalnya satu hingga dua jam, biasanya dapat pulih dengan cepat setelah menjauh dari sumber polusi dan menghirup udara bersih.

"Kalau hanya terpapar satu sampai dua jam, kemudian dia keluar dari lingkungan tersebut, bisa saja dalam 1 x 24 jam sudah membaik," ungkapnya dalam tayangan detikSore, Selasa (20/10/2026).

Faktor yang Mempengaruhi Pemulihan

Namun, waktu pemulihan tersebut tidak dapat dijadikan patokan untuk semua orang. Gejala yang muncul dan durasi pemulihan dapat bervariasi tergantung pada tingkat paparan serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Prof Agus juga menekankan bahwa paparan asap dalam jangka panjang atau berulang harus diwaspadai karena dapat berdampak serius pada kesehatan paru-paru. Kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan riwayat penyakit pernapasan, memiliki risiko yang lebih tinggi.

"Kalau dia hampir terpapar tiap hari, terhirup tiap hari, maka akan ada efek jangka panjang yang dapat muncul, seperti gangguan fungsi paru, kemudian risiko terjadinya penyakit seperti asma, atau bahkan jika berbulan-bulan terpapar, bisa risiko terjadi penyakit paru obstruksi kronik atau PPOK, atau bahkan terjadi fibrosis paru," tambahnya.

Langkah-langkah Mengurangi Dampak Paparan

Untuk mengurangi dampak dari paparan asap, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup pintu dan jendela, serta menggunakan alat pembersih udara jika tersedia. Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan respirator yang sesuai, seperti N95, sangat dianjurkan.

Prof Agus juga merekomendasikan agar individu yang mengalami paparan polusi udara melakukan pemeriksaan kesehatan. Hal ini penting untuk mengevaluasi dampak paparan terhadap organ tubuh, terutama paru-paru. "Kalau sudah, walaupun sudah melewati masa paparan itu, sudah menghirup udara sehat, lakukan pemeriksaan kesehatan khususnya pada paru. Tentu organ lain juga penting karena dampaknya bisa ke jantung," jelasnya.

Jika seseorang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya yang tidak kunjung membaik setelah menjauh dari sumber paparan, segera mencari pertolongan medis sangat dianjurkan.

Artikel Terkait