🔴 Breaking
DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN
Teknologi

Insiden Peretasan di Bursa Kripto Binance, Aset Diperkirakan Hilang Rp 103 Triliun

Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, dilaporkan mengalami peretasan yang mengakibatkan hilangnya aset senilai sekitar Rp 103 triliun. Perusahaan kini tengah menyelidiki masalah keamanan ini.

Eko Prasetyo

Penulis

30 October 2026
12 kali dibaca
Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.(Anton Zubchevskyi / iStock Editorial via Getty Images)
Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.(Anton Zubchevskyi / iStock Editorial via Getty Images)

Binance, yang merupakan bursa mata uang kripto terbesar di dunia, mengalami insiden peretasan pada Kamis (29/10/2026). Dalam kejadian ini, diperkirakan aset kripto senilai 5,7 miliar dollar AS (sekitar Rp 103,34 triliun) hilang dari beberapa dompet digital yang dikelola oleh Binance. Saat ini, perusahaan tengah melakukan penyelidikan terkait laporan potensi masalah keamanan ini.

Sebagai langkah pencegahan, Binance telah menghentikan sementara layanan penarikan dana melalui beberapa jaringan. Meskipun demikian, perusahaan belum memberikan konfirmasi mengenai jumlah pasti aset yang diduga dicuri atau penyebab dari insiden ini. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media, Binance menegaskan bahwa dana pengguna tetap aman. "Kami mengetahui laporan mengenai potensi masalah keamanan dan sedang menyelidikinya secara aktif," ungkap Binance.

Aktivitas Mencurigakan dan Estimasi Kerugian

Laporan mengenai dugaan peretasan ini muncul setelah sejumlah pengamat kripto menemukan aktivitas mencurigakan pada dompet digital Binance. Diperkirakan sekitar 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 36,26 triliun) telah ditarik dari hot wallet Binance, yang merupakan jenis dompet kripto yang terhubung dengan internet dan digunakan untuk akses cepat. Beberapa estimasi menyebutkan bahwa potensi kerugian Binance bisa mencapai 5,7 miliar dollar AS, meskipun angka ini belum dikonfirmasi secara resmi.

Binance belum memberikan informasi mengenai total aset yang diduga hilang dan belum memastikan apakah pencurian masih berlangsung. Jika kerugian miliaran dollar AS ini terkonfirmasi, insiden ini dapat menjadi salah satu peretasan kripto terbesar dalam sejarah. Berdasarkan data yang dihimpun oleh situs Rekt, salah satu insiden terbesar sebelumnya terjadi pada tahun 2025, ketika bursa kripto Bybit kehilangan aset senilai sekitar 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 25,38 triliun) akibat serangan peretasan yang diduga dilakukan oleh kelompok hacker dari Korea Utara.

Tindakan Pihak Terkait

Dugaan peretasan terhadap Binance juga mendorong penerbit stablecoin seperti Tether dan Circle untuk membekukan sejumlah dana yang terkait dengan insiden tersebut. CEO Circle, Jeremy Allaire, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah membekukan aset senilai lebih dari 800 juta dollar AS (sekitar Rp 14,50 triliun) melalui koordinasi dengan pihak berwenang. Sementara itu, CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa mereka telah membekukan aset senilai lebih dari 1,5 miliar dollar AS, dengan total dana yang dibekukan oleh Tether mencapai sekitar 1,56 miliar dollar AS (sekitar Rp 28,28 triliun).

Pendirinya, Changpeng Zhao, menanggapi laporan peretasan ini melalui unggahan di platform X, menyatakan bahwa insiden ini terlihat seperti peretasan terhadap Binance. Meskipun tidak lagi mengelola perusahaan secara langsung, ia berharap seluruh dana pengguna dapat ditanggung sepenuhnya. "Sebagai pemegang saham, saya berharap seluruh dana pengguna akan sepenuhnya ditanggung," tulis Zhao.

Saat ini, penyebab dari insiden keamanan di Binance masih dalam tahap penyelidikan. Belum ada informasi yang terverifikasi mengenai metode yang digunakan oleh para pelaku atau jumlah akhir aset yang terdampak.

Artikel Terkait